Dear friends..
semua butuh proses, ya dalam belajar dalam memahami hakikat dibutuhkan proses karena memang tidak mudah. Dan sekarang saya juga masih dalam proses.. ini soal kita, cewek--> tentang mangambil keputusan untuk berjilbab
saya memutuskan berjilbab tanpa ada desakan dari pihak manapun. Keputusannya memang tidak mudah, awal-awal saya malu karena yang saya tahu saya ini anak bandel, saya juga bukan anak yang rajin ngaji, hobi berantem dan teman-teman saya kala itu anak-anak yang hobi main ke studio musik dan mereka yang rajin menghempaskan kakinya di atas matras.
ketika saya kambali ke tempat latihan dengan kondisi yang berbeda, mereka juga memberikan respon yang tidak biasa. yang biasanya narik-narik rambut saya sembarangan mereka berlahan juga memahami saya. Saat ada sesi latihan yang mengharuskan menyingsingkan lengan baju mereka juga perhatian kok, "Oh.. buat kamu g usah" Lingkungan akan belajar memahami kita juga.
Tapi bukan berarti memakai jilbab berarti kamu jadi orang yang sepenuhnya baik. Enggak. Saya masih nakal, bocah nakal yang perlu banyak-banyak dinasihati. Saya juga masih bisa main dengan teman-teman lama saya kok. Bedanya sekarang saya terus belajar, jilbab jadi kontrol buat saya. Untuk terus belajar dan berhati-hati dalam bersikap. Karena saya rasa tidak adil jika saya yang berbuat buruk , tapi jilbab saya yang disalahkan. Salahkan saya, tegur saya, nasihati saya, karena bukan jilbab saya yang berbuat salah!
jilbab yang saya pakai ini cuma kain, itu benda mati. Kapan saja di mana saja bisa dengan mudah di lepas. tapi ketika menggunakannya dengan kesadaran penuh, itu bukan sekedar kain. Jika kiranya kita belum siap lalu mengatakan, "Jilbabi hati dulu" masalahnya nggak ada toko penjual jilbab hati? Jadi, ketika kita berjilbab, saat itu kita akan mulai dituntut belajar lebih. Yaa, kita mulai berproses..
buat temen-temenku yang punya niat berjilbab ayo jangan ditahan 
Jilbab bukan tuntutan sosial, tapi jilbab itu panggilan yang akan menuntut kita mengikhlaskan keindahan yang diberi Allah ke kita untuk dijaga.
Deretan nama yang banyak bukan? luar biasa!
Ini untuk partama kalinya saya memiliki kesempatan untuk memilih ketika saya berusia 21 tahun. Untuk pemilih pemula seperti saya, berkesempatan dalam memilih caleg dan capres adalah pengalaman baru. Sebuah pengalaman baru biasanya akan amat jarang sekali untuk dilewatkan. Untuk  tahun ini saya memutuskan untuk memilih, tidak golput.
Dikalangan mahasiswa dan teman-teman saya sedang marak sekali mengenai golput. Ada yang bilang bahwa golput berarti beputus asa. Ada yang menganggap golput adalah salah satu dari bentuk perjuangan yang lain dalam melawan kelaliman pemerintahan. Tetapi ada pula yang tidak peham mengapa dirinya memilih golput. Sisanya beralasan bahwa calonnya terlalu banyak dan mereka tidak mengenal siapa yang harus mereka pilih. Yah pada intinya bingung mau pilih siap, ada baiknya bila golpot.
Sebenarnya untuk prinsip golput ataupun memilih, bukanlah suatu hal yang harus dibenturkan. Karena dalam perundang-undangan sudah jelas bahwa memilih adalah hak, yang artinya bukan kewajiban untuk tidak boleh meninggalkan pemilihan. Dalam UU tentang pemilu no.10/2008. Pasal 19  ayat 1 dijelaskan sebagai berikut: WNI yang pada akhir pemungutan suara telah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. Sehingga jika tidak memilih bukanlah suatu pelanggaran. Tapi amat disayangkan jika ditinggalkan. Mungkin kita bisa sedikit berimajnasi apabila pemilihan ini hanya khusus untuk mereka yang memiliki kepentingan politik saja. Apakah mungkin kita akan menuntut agar hak memilih bisa kembali berlaku untuk semua warganegara?
Pasti membutuhkan anggaran yang tidak murah untuk menyiapkan kertas-kertas surat suara yang lebarnya seukuran poster.

Akhrnya saya mengerti mengapa popularitas tidak terkepas dari kemenangan pemilu. Akhirnya saya juga memahami mengapa orang memilih untuk golput. Untuk pertama kalinya saya menerima 4 lembar surat suara, dalam lembaran surat suara tersebuat tercantum nama yang begitu banyak berderet seakan meronta-ronta meminta untuk dicoblos. Tentu saja tidak semua dari nama-nama calon legislatif tersebut saya kenali satu persatu. Nama caleg yang seakan-akan terang-benerang diantara puluhan nama adalah mereka yang namanya berkibar-kibar di spanduk. Oh, harus saya apakan nama itu? Padahal tidak persis saya mengenal dan mengetahui kapabilitas orang tersebut. Jika saya adalah anak baik, pasti sudah saya coblos semua deretan nama tersebut. Tapi cobolsan yang membabi buta akan memicu perhatian orang ke bilik pemilihan saya pastinya.
Jauh-jauh hari saya sudah berusaha mengenal orang-orang yang mencalonkan diri melalui wesite KPU. Namun hasilnya tidak seperti yang saya duga. Hanya daftar nama dan foto yang tertera. Saya mengira akan ada profil lengkap mengenai sang calon legislatif. Mencoba mengenal tanpa adanya unsur subjektiftas dari partai, tapi sayang tidak saya dapatkan. Hingga berhadapan dengan surat suara, saya benar-benar tidak megetahui kapabilitas mereka.
Popularitas amat menentukan. Ini saya simpulkan ketika seorang  ibu-ibu berkata kepada saya, “Tadi aku nyari nama pak (sensor) kok nggak nemu ya? Itu loh pak (sensor) dari partai (sensor) yang kemarin udah bagi-bagi sembako. Aku mau terimakasih e..” namun bagaimanapun itu baru sampel kecil saja. Tidak bisa disimpulkan secara mutlak.
Untuk menemukan pemimpin di negara dengan jumlah penduduk yang banyak bukanlah hal yang mudah. Mungkin mencoblos adalah sistem yang dianggap paling ideal untuk menemukan perwakilan orang dari jutaan penduduk yang tersebar di Indonesia. Semua orang bisa saja mengajukan diri untuk mencalonkan diri. Masalah yang timbul adalah, apakah orang yang mencalonkan tersebut benar-banar dapat mewakli rakyat? Bagaimana bisa mereka bisa mengatakan mewakli rakyat bila mereka yang mencalonkan saja tidak mengenal siapa yang mereka wakili? Dan tiba-tiba saja mereka muncul memperkenalkan diri dan meminta untuk dipilih. Untuk para pemilih seperti saya akan sangat wajar jika dalam benak terlintas pertanyaan, “Siapa anda? Apakah saya tahu bagiamana anda bekerja?”
Tumpukan kertas suara yang siap coblos

Ah, beginilah demokrasi. Suara terbanyak dianggap mewakili suara rakyat. Untuk para pemilih, jangan sedih jika pilihannya tidak terpilih. Untuk yang memutuskan golput, siapa saja yang terpilih tidak akan menjadi masalah. Toh jika mereka yang terpilih melakukan korupsi, itu bukan pilihan para golput kan?

Bahkan pada tahun 2009, golput justru yang menang. Dalam situs resmi KPU suara golput mencapai angka 39,1% semantara partai pemenang hanya mendapatkan angka 20,85%. Golput adalah suatu kewajaran. Jika memilih tanpa tanggung jawab dengan mencoblos orang yang tidak memiliki kapabilitas, maka apa bedanya dengan memilih orang-orang yang kelak akan berbuat kersakan? Ada baiknya kita memilih dengan kesadaran penuh siapa yang kita pilih. Jika dianggap tidak ada yang dapat mewakili, golput lebih baik. Karena memilih adalah pilihan, tapi memilih sembarang orang bukanlah pilihan.

tulisan ini banyak terinspirasi dari buletin bulaksumur pos edisi pemilu :D
Surat dari temen-temen SMP yang masih ku simpan

                Beberapa hari lalu sebelum akhirnya aku menulis ini Cho.. aku berhura-hura dengan kebulan debu kamarku. Tumpukan buku, barang yang sudah mengantri untuk dibuang dan tumpukann baju yang baru kering dijemur membawa keberuntungan hari itu. Bukan karena aku menemukan selembar uang di kantung baju.. tapi si kotak pandora yang berisi ingatan dan rasa dimasa lalu.
                Halah.. berlebihan aku bilang kotak pandora, Haha. Tau saja Cho, yang ku maksud kotak pandora itu adalah sebuah laci yang berisi tumpukan-tumpukan surat yang ku terima dari teman-temanku dulu. Ya, aku menemukan teman-temanku di laci. Mereka kutemukan dengan membawa kenangan dan rasa di masa lalu yang masih dapat tersimpan dengan baik. Bukan hanya tersimpan dalam ingatan, tapi semua rasa itu tertuang dalam surat-surat yang kuterima dari mereka. Sampai sekarang aku masih menyimpannya dengan baik Choco.. Yap! Mualilah reuni imajiner.
                Hehehe Cho.. bukan masalah isi surat yang akan kuceritakan padamu. Tapi aku mau menceritakan mengenai rasa yang kembali itu. Jaman sekaran Cho, tidak perlu susah-susah mengirimkan pesan ke teman-teman atau saudara kita yang jaraknya tidak cukup ditempuh dalam sehari-dua hari. Ketik Sms, langsung sampai. Kirim email, langsung sampai. Telfon juga bisa, justru alat komunikasi sekarang bisa dibawa kemana-mena dan tidak seribet dahulu kita harus mengirim pesan lewat telegram. Perasaan yang ingin disampaikan ke teman dan saudara mungkin masih akan tertunda sedikit sebelum akhirnya pesan sampai. Yang sekarang terjadi, semua orang bisa saja sebentar-sebentar mengungkapkan rasanya lewat sms. Sedang kesal, sms saja.. langsung tersampaikan. Sedang senang, sms saja... teman kita langsung tau. Sedang bingung, sms saja.. teman kita akan segera memberi jawaban. Begitu mudahnya kita mengungkap rasa. Sampai-sampai, begitu mudahnya pula kita menghapus rasa itu.


Jaman SMA, nama pengirim surat masih diperbolehkan alay. Tapi itu yang ngangenin
                Iya kan Cho? Pesan yang kita terima lewat sms dan email, apa lagi lewat telfon mudah sekali langsung hilang. Jika kapasitas memori di handphone sudah penuh, pasti ada yang harus segera dihapus. Pesan email, bisa saja disimpan kemudian di print. Tapi amat jarang sekali orang melakukan hal tersebut. Hahaha, Cho.. aku sedang memanggil rasa senang itu ketika menulis dan menerima surat. Memang sudah bukan jamannya lagi sekarang kirim surat. Mengingat sudah ada teknologi yang memudahkan dalam pertukaran informasi. Tapi Cho.. ada yang tak bisa tergantikan oleh teknologi secanggih apapun itu, yaitu rasa senang ketika kita menerima surat dari teman dan saudara kita. Rasa senang ketika kita membuka kembali pesan yang diterima beberapa tahun sebelumnya.
Kartu pos yang ku kirim untuk teman-temanku yang jaraknya ribuan tahun cahaya. Dapet kiriman balik kah?

                Surat-surat yang kutemukan banyak datang dari teman-teman SMP, SMA, teman rumah dan saudara-saudarku. Teman kampus? Aduh boro-boro, kami terlalu sibuk terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Sms sepertinya sudah cukup karena kami terlalu sibuk. Cho, aku ingin menginvestasikan rasa itu di masa depan kelak. Jadi aku coba meminta alamat mereka untuk aku dapat mengirimkan surat suatu saat nanti. Tapi ah.. kartu pos yang rencannya ingin kukirimkan ke teman-temanku akhirnya ku kirimkan sendiri melalui tanganku. Aku kirimkan dari Jakarta, tapi ternyata kartu pos baru ketahuan sampai di Jogja ketika aku pulang. Hahaha.. semoga teman-temanku berkenan manyimpannya. Akankah mereka juga mamanggil rasa itu suatu saat nanti di masa depan? Entahlah, kalau tidak berarti investasiku gagal. Ya, gagal menananmkan rasa itu..
                Ehm, bicara soal rasa Cho.. teman-teman SMP dan SMA ku sangat berhasil menginvestasikan rasa itu padaku. Ketika aku mambuka satu persatu tumpukan surat dari meraka, betapa lupa.. aku lupa bahwa dulu aku pernah bersenang-senang. Dari tulisan mereka aku ingat bahwa dulu aku pernah membuat lima orang teman-teman ku patah hati padaku. Hahaha.. aku baru ingat bahwa saat SMP aku merupakan anak yang sangat terbuka kepada siapapun. Dari tulisan mereka juga aku ingat, pernah membuat orang mengucilkanku dan akhirnya mereka sendiri yang meminta maaf.. Rasa-rasa itu muncul kembali Cho.. meski mereka sudah memiliki kehidupan dan kesibukan yang berbeda, mereka masih hadir dalam ingatan yang tersimpan dalam lembaran-lembaran kertas.

                Oh, friends.. I wish you were here.

                Aku juga berharap selalu memiliki ingatan yang baik dengan teman-temanku yang skarang. Bolehkan aku memanggil rasa senang ini suatu saat nanti?

                
Apakah kita hanya kenal untuk satu periode kepegurusan saja? menurutku lebih

Hai Cho, ini adalah yang paling aku takuti ketika mengenal orang dan bisa dikatakan jika sudah terlanjur “akrab”. Cho, semua orang dengan sikapnya yang sekarang merupakan hasil pembelajaran dari berfikir dan pengalaman. Orang memiliki sifat yang begini maupun begitu karena sangat terpengaruh banyak orang disekitarnya. Semua orang yang berpengaruh terhadap sikap kita sekarang aku sebut sebagai teladan.
Cho, maungkin telah banyak orang yang ku teladani. Teman-temanku salah satunya. Kekhawatiranku akhirnya terbukti juga. Sikap berlebihanku ini yang sebenarnya melukai diriku sendiri. Cho, aku sudah menganggap teman-temanku sebagai tauladan untuk diriku. Yang sikapnya keras, sopan hingga begitu lembut. Namun ketika orang tersebut melakukan hal yang berkebalikan dengan yang selama ini ku pahami tantang mereka, aku sedih Cho.. sedih.

Sebenarnya hal itu tidaklah adil jika terus-terusan menganggapnya seperti itu. Berharap jika orang-orang akan terus bersikap seperti yang kita harapkan. Toh mereka juga manusia kan Cho? Tentunya aku tidak memiliki hak untuk menuntut mereka bersikap sesuai keinginanku. Manusia adalah temparnya salah. Yang paling penting adalah kita mengingatkannya. Tapi apa daya aku juga lemah, Cuma bisa terus berdo’a untuk teman-temanku:
Pertemanan kita sedang bertumbuh kawan, sampai jumpa di musin berbunga lagi :D

“Ya Allah lindungilah teman-temanku dari segala keburukan yang ditimbulkan dari diri sendiri maupun orang lain”

Oke Cho, aku tidak bisa banyak cerita banyak. Intinya begini, mereka adalah orang-orang yang kusayangi. Tidak mungkin aku menceritakan mereka dalam tulisan ini. Salah satu perumpamaan saja, bagaimana mereka mengajarkan mengenai interaksi dengan lawan jenis. Mereka memberi contoh untuk tidak berlebihan saat bicara dengan lawan jenis, mereka memberi contoh agar tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom kita, mereka memberi contoh bagaimana agar tidak selalu mengambil hati dari segala sikap lawan jenis. Kemudian Cho, bagaimana jika suatu saat mereka kudapati boncengan, berduaan dengan orang yang bukan mahrom, jalan bareng hingga mereka (ah yang ini aku nggak bisa cerita) Aaaaaaagh! Entahlah harus bilang apa. Itu perumpamaan yang nyata Cho! Itu terjadi pada teman-teman di sekitarku. Baik di lingkungan sekolah maupun kampus. Choooo, nggak adil bila aku membenci mereka, nggak adil! Hal itu bukan untuk sekali-dua kali aku melihatnya. Kemudian haruskah segala yang kudapatkan dari mereka ku kembalikan? Segala kebaikan dari mereka harus aku kembalikan? Segala rasa percaya kepada mereka juga harus kukembalikan ke nol?

Cho, sampaikan kepada mereka bahwa aku menyayangi mereka. Ada benyak kebaikan yang telah kuambil dari mereka. Teman-temanku bukanlah sekedar bunga yang bila habis madunya kemudian dibuang. Tapi pertemanan adalah merawat bunga-bunga itu agar terus bermekaran...
Maaf nggak punya foto kalian berempat, kita tetep bisa berteman baik meski nggak selalu jalan bersama

Berteman harus siap menerima konsekuensi, iya kah? Iya Cho! bukan hanya sekedar menerima kebaikan dan rasa nyaman kemudian kita akan terus membersamainya. Lalu, siapkah kita akan terus berteman saat kita mengetahui keburukan seorang teman?

“I love you all my friends, do you love me too?”


Hhaaha, oh ya Cho.. kadang perlu norak untuk bisa menyatakan rasa sayang ke orang-orang yang kita sayangi. Cho, apabila ada temenku yang membaca ini dan mereka akan risih, sampaikan maaf juga ya. Aku rela norak untuk mereka agar aku bisa terus berteman dengan mereka.
Pacaran itu barang yang tidak bisa dibandingkan denga menikah, jauuuuuh... yah meskipun saya bukan pelaku aktif pacaran saya sudah tahu bagaimana rasanya. Pacaran itu hanya sekedar aktifitas untuk memenuhi keingginan kita untuk dekat dengan orang yang kita simpati terhadapnya. Hanya perasaan itu diungkapkan dan tiba-tiba menjadikan kita seolah-olah berkomiten untuk terus bersama orang yang kita inginkan. Apa jaminannya? tidak ada! ini hanya kegiatan untuk memenuhi hasrat kita yang ingin terus bersama orang yang kita suka. Saat kita berpacaran, yang nampak dari orang  yang terus kita bersamai hanyalah kenampakan baiknya. Teman, apakah kamu pernah berfikir sebenarnya apa yang sedang dilakukaan saat dia tidak sedang bersamamu? Jangan membohongi diri sendiri. Cobalah tengok, sikap apa yang selalu kita pasang saat berhadapan dengan orang yang disebut dengan pacar? dan bandingkan dengan sikapmu sehari-hari kepada kedua orang tua? Apakah sama? Teman.. kita selalu menampakan sisi baik dan sikap kita yang baik saat bertemu dengan orang yang kita sebut pacar. Namun ketika kita marah dengan kedua orang tua, apakah kita mau dilihat sebagai orang yang bersifat seperti itu dihadapan orang yang kau sebut pacar? hah.. ini lah, yang ujung-ujungnya akan membuat hubungn itu berakhir ketika kita sudah saling mengetahui kejelekan masing-masing. Jika sudah tidak tahan, ujung-ujungnya juga putus.. kandas. Kegiatan pacaran bisa saja kamu lakukan dengan sesuka hati bersama orang yang kita suka. Tidak butuh komitmen. Tapi yang namanya pernikahan, butuh komitmen dan tidak bisa disamakan dengan berpacaran. Siapa yang bilang bila pacaran itu latihan berumahtangga? sehingga saat menikah sudah lebih terbiasa dan sudah mengenal satu sama lain? itu hal yang salah! Teman, sebagai anak yang mengamati kehidupan pernikahan kedua orang tua, minimal kita sudah paham mengenai ini. Pernikahan akan menuntutmu menerima setiap kekurangan orang yang akan bersamamu. Ketika terdapat perbedaan dan kejelekan sifat dari orang itu, tidak semena-mena kita bisa mengakhirinya dengan kata 'putus'. Sekarang kamu dihadapkan dengan tanggungjawab kepada orang tuanya, kepada dirinya yang telah kau minta dan kepada Allah.

Oke anggaplah ini sebagai bentuk saya berbagi. Saat saya masih SMP, saya paling hobi menemani teman saya untuk mengejar-ngejar orang yang dia suka. Menemani teman saya bertemu dengan pacarnya yang tempat tinggalnya di dekat kali dan saya ditinggal dipingir kali untuk mereka bercengkrama. Betapa bodohnya saya dulu. Iya saya akui, kegiatan mengejar-ngejar anak laki-laki dan mendengarkan teman saya yang berbahagia karena menyukai laki-laki itu nampak menyenangkan. Iya saat itu masanya transisi dari anak-anak menuju remaja. Perasaannya masih labil dan fikirannya masih sangat cekak. Dulu saya senang-senang saja menuruti permintaan teman saya untuk menemani dia menemui pacar-pacarnya. Namun, setelah saya berkali-kali dia tinggal asik melakukan kegiatan itu, saya terus dicampakan. Dia hanya menemui saya ketika di butuh. Akhirnya saya memutusakan untuk berpisah dengannya dan mencari teman yang lebih baik. Apa dia peduli? Entahlah.. toh dia telah menemukan teman yang lain yang setia menemaninya untuk mengejar-ngrjar laki-laki lainnya. Secara tidak langsung saya sudah mengetahui bagaimana dan apa rasanya melakukan kegiatan tersebut. Tapi seketika itu pula saya menjadi orang yang paham bagaimana imbas dari kegiatan tersebut. Pacaran tidak dibutuhkan komitmen. Kalau sudah nampak jeleknya dan berasa ingin berpisah. Tinggal bilang putus.. cari yang lain, yang lebih baik.

Kakak saya orang yang aktif berpacaran, saya harap suatu saat dia membaca blog ini. Saat kakak saya sedih saat berpisah dengan pacarnya, saya menjadi orang pertama yang mendapatkan efek dari moodnya yang jelek. Saya sudah berkali-kali beritahu dia, yang ada justru kepala saya lebih murah dibandingkan sepatu yang dia lemparkan ke wajah saya. Oke terserah.. saat kamu menangis yang diakrenakan diputuskan pacarmu, urusi sendiri kesedihanmu dan jangan sekali-kali meminta pendapat mengenai bagaimana seharusnya perempuan, aku tidak mau menjawab.

Kini saatnya saya dihadapi kesulitan bersikap sebagai anak yang terus-terusan meihat pertengkaran kedua orang tua. Sudah 23 tahun, ternyata belum dapat mendewasakan usia pernikahan keduanya. Belum cukup untuk memahami satu sama lain, dan terus-terusan yang dipermasalahkan adalah permasalahan yang sama. Tapi mengapa mereka masih bertahan hingga sejauh ini? Pernah saat saya masih kecil, saya secara pribadi meminta kepada kedua orang tua saya agar mereka bercerai. Saya dan kakak saya sudah sepakat untuk berbagi, saya ikut bapak dan kakak saya ikut dengan Ibu. Saat saya mengutarakan hal tersesbut yang ada justru membuat ibu saya sedih, beliau menangis. Saya benar-benar masih lugu saat itu. Hingga akhirnya saya tau apa yang menjadi akar masalah yang dari dulu tidak pernah terselesaikan. Setelah saya cukup besar, baru Bapak bercerita bagaiman akhirnya mereka menikah. Pada intinya, tidak ada alasan kuat, tidak ada komitmen, tidak ada dasar jelas yang melandasi pernikahan kedua orang tua saya. Salah satu dari keduanya (maaf saya tidak bisa becerita banyak) dipaksa untuk menikah oleh salah satu pihak keluarga. Bila pernikahan tersebut tidak dilakukan, akan ada fitnah dan pemutusan hubungan saudara. Beginilah akhirnya.. saya sering melihat pertengkaran kedua orang tua saya dimanapun. Pernikahan butuh komitmen yang kuat, sementara pacaran bisa kamu lakukan sesuka hatimu.

Pacaran bisa kamu lakukan sesukamu kok. Tapi apa kamu tega membagi-bagi hatimu kepada banyak orang? Oke, ada pernyataan yang mengejutkan dari kakak saya yang aktif pacaran. Dia pernah menyampaikan begini, "Eh.. pasti nyakitin bagi seorang laki-laki mendapatkan pernyataan, 'selamat kamu telah mendapatkan bekas (mantanku)' saat dipernikahannya" Ehm.. intinya dari pembicaraan itu, bagaimanapun tidak ada orang yang mau mendapatkan hati yang telah dibagi-bagi ke orang lain. Sekarang bertanyalah pada hatimu, apakah kamu tega memberikan yang tidak utuh kepada orang yang seharusnya berjodoh denganmu?

Satu pesan lagi, ini pelajaran yang bapak berikan kepada saya anak perempuannya. Saat itu Bapak sedang bengah melihat perilaku anak orang yang berpacaran didepan banyak orang juga tanpa malu. saling berpangkuan dan menggeliat-geliat geli. Bapak becerita ketika itu anak laki-laki yang dia lihat kepalanya dipangku dipaha si anak perempuan yang menggunakan celana pendek. Bapak kemudian bilang, "Betapa bodohnya anak perempuan itu, kasihan sekali. Apakah dia tidak berfikir bahwa laki-laki itu juga bisa melakukan hal yang sama terhadap perempuan yang lain?" Pelajaran lagi. Jangan mudah bersimpati terhadap lawan jenis, apakah kamu tidak berfikir bahwa dia juga akan melakukan hal yang sama pada orang lain? Apa lagi menghadapi laki-laki yang genit, hah.. jauh-jauhlah. Jangan-jangan kamu perempuan nomer sekian yang telah dibuai oleh sikap berlebihannya itu.

image source: http://www.layakbaca.com/2012/08/walpaper-dan-gambar-kartun-muslim.html
           
Alhamdulillah.. Akhirnya bisa kumpul bareng juga. Dewi?


Horeeee! Setelah hampir 6 bulan terkukung dikampus akhirnya bisa bertebaran di muka bumi! Oke, hitung-hitung dari kampus Fakultas Biologi ke gedung Rektorat merupakan jarak terjauh yang pernah ditempuh teman-teman PH (pengurus harian) untuk bisa berkumpul dan jalan bersama. Jarang-jarang kami bisa merasakan mendung di luar langit kampus yang penuh dengan jadwal kesibukan yang kami buat sendiri. Ya, hari itu tanggal 22 Juni 2013, jadi hari pertama kami akhirnya rapat diluar kampus! Biasanya kami mencuri-curi waktu ditengah kesibukan kami untuk sekedar rapat membicarakan hal-hal yang sangat mendesak. Dan untuk hari itu, kami dipertemukan dalam keadaan yang lapang dengan limpahan rizki yang berlipat ganda karena bapak Mas’ul kami, Cahyo Adi Wibowo dengan senang hati membelikan anak-anaknya bakso.. Alhamdulillah

Cho.. ini untuk pertama kalinya akhirnya kami dipertemukan dalam keadaan lengkap (hueeew....). Bisanya ada ketimpangan disana-sini yang tidak bisa tertambal tanpa kehadiran teman-teman PH. Yah, saya nyatakan bahwa rayuan gembel semangkuk bakso Pak Ateng ala Cahyo mampu mengumpulkan kami dalam waktu yang sama, untuk  lagi-lagi Syuro’

 Hari itu semuaya hadir, kecuali Dewi tidak ada saat kami semuanya menikmati kuah panas kuliner Pak Ateng. Meika, Annis, Lutfi Dewi, Muslih, Ibnu, Cahyo, Ali, Fajar, Mbak Umi dan Irma (aku juga ada lho!) duduk dikursinya masing-masing untuk menghabiskan makanan yang ada didepan kami. Taukah Choco, hari itu aku hanya pesan mie ayam pangsit dan air putih untuk ngirit kantong. Awalnya aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata ada yang berbaik hati menraktir anak sebanyak ini. Tapi ada yang memilih untuk tidak makan dan juga ada yang tambah setengah porsi (apakah juga dibayar setengah?)
           
Setelah dirasa kenyang, kami pindah menuju tempat untuk rapat. Sholat berjama’ah di rektorat dan dengan lancangnya kami numpang rapat di lantai dua rektorat depan ruang sidang utama*. Dengan polosnya kami duduk rapi dan ketika itu pula ada oknum SKKK yang polos datang dan bertanya, “Ini ada acara apa mas?” dengan polos juga akhirnya Cahyo menjawab “Rapat Pak..”dan akhirnya si bapak SKKK melanjutkan kepiawaiannya “Pindah di bawah aja....” OKE! Sepolos-polosnya kami akhirnya kami pindah juga Cho.. Oh iya, saat kami rapat, Dewi Rakhmawati temanku ini datang Choco. Dia datang menaiki tangga dengan suara hentakan kaki yang luar biasa hingga semua perhatian kami tercuri memperhatikan ke tangga, siapakah gerangan? Oh ternyata Dewi Rakhmawati. Sayang baru sebentar menikmati kebersamaan kami yang mutlak lengkap harus segera diakhiri sementara untuk pindah tempat.

Choco, akhirnya kami pindah tempat di bawah pilar-pilar rektorat sebelah barat, tepatnya di parkiran mobil para pejabat kampus kami melanjutkan rapat. Adaaaaa saja kejadian yang terjadi. Kali ini Muslih kelupaan, es krim susu strawbery yang ia simpan di dalam tas mencair.. dan melumuri semua bagian dalam tasnya menjadi warna ‘PINK!’ Tapi semua teratasi Cho.. Ibnu mampu menghabiskan es ukuran cup jumbo dengan beberapa kali teguk. Untungnya pula, ada kepala Bidang Kemuslimahan yang sangat muslimah sekali menyumbangkan semua tisue untuk membersihkan lumuran es krim, terimaksih Lutfi Dewi..

Kali ini ada pesonil MS yang hadir, beliau (pinjem istilahnya Dewi ah.. pake ‘beliau’) merupakan MS yang paling rajin hadir mendampingi kami saat rapat, mas Ihlas. Datangnya beliau menjadi kelengkapan yang lebih untuk kami. Karena adanya mas Ihlas memberikan kami kesampatan untuk bisa foto keroyokan. Choco, foto-foto kami (pengurus harian di rektorat) sebagian besar adalah hasil jepretan mas Ihlas Choco, syukron...

Choco, maaf foto-foto kami ini sebagian banyak yang alay, InsyaAllah untuk teman-teman yang akhwat (perempuan) masih terjaga kok, enggak macem-macem. Lihat saja gaya duo maut Ibnu-Ali, mantap sekali fotonya. Berbeda dengan Fajar yang sangat berwibawa seperti mentri kabinet yang mau diambil fotonya. Ini cukup untuk kalangan sendiri saja, anak-anak PH. Foto-foto ini cukup menjatuhkan image (Astaghfirullah...) ya tapi itulah kami, cukup untuk kalangan sendiri. Selamat bermemoar teman-teman,” jika tua nanti kita kan hidup masing-masing.. ingatlah hari ini”. Hanya Allah yang bisa memisahkan (kita? hehehe)
                          
                  


 Fotografer handal hari itu, mas Ihlas


" Ada yang mau pesen bakso lagi?"


Obsesi Rektor-Ibnu Sina

foto lengkapnya silakan klik di sini







Hai Choco, hari ini mentalku agak sedikit 'teroncang'. Revisi yang ku kerjakan sungguh-sungguh tidak ada artinya di bawah oret-oretan asisten praktikum. Jelas ini kesalahanku. Revisi tanpa terlebih dahulu bertanya apa maunya si asisten dan bagiamana seharusnya aku merevisi laporan. Bila tanggapannya seperti yang akan kusampikan di bawah ini, aku merasa sedikitpun tidak ada apresiasi atas kerja kami sebagai praktikan..

Sore kemarin setelah kami mencoba berunding dengan asisten mengenai nilai-nilai yang minim yang kami terima, banyak dari kami yang cuma ngelus-ngelus dada untuk mengatakan pada diri "sabar...sabar...". Cho.. kami berusaha agar apa yang selama ini kami usahakan itu tidak berujung dengan keluhan.

Sepulangnya kami berbincang dengan asisten, ada dua temanku yang mengambil hasil koresi ke laboratorium, Amalina dan Sri. Mereka tergopoh-gopoh membawa tumpukan laporan kelompok kami dan tiba-tiba Sri menghampiriku sambil berkata "Tul... laporanmu ngeri banget!" dan taukah Cho.. apa yang dimaksud ngeri oleh temanku?


Revisi laporan yang kuharap mendapatkan nilai yang lebih baik malah berlebel seperti ini;

"Males koreksi nih, revisinya kagak niat... Sudahlah kagak usah revisi klo gini caranya.. Ok? pake nilai yang kemarin aje"

Astaghfirullah.. rombongan teman-teman yang mau pulang pada ngeri benar Cho lihatnya. Teman lain yang bukakn satu kelompok praktikumku juga mendadak naik darah lihat komentar yang seperti itu.

Cho ada banarnya omongan anak teknik. Aku pernah diajari seperti ini Cho, "Kalau ke kampus, hatinya ditinggal di rumah atau di kostan aja, jangan ikut dibawa". Komentar itu membenarkan apa mereka ungkapkan Cho. Dunia kampus itu menuntut kita untuk melakukan segala sesuatunya dengan benar, hati tidak jadi ukuran untuk mencapai apa yang jadi tujuan. Jika menanggapi hal-hal sekcil itu menggunakan hati, dijamin.. lama-kelamaan hati kita justru 'kebas' alias mati rasa. Sangat disarankan sekali untuk meninggalkan hati kamu dan simpan seaman-amannya di rumah atau kostan Cho.. untuk lebih aman lagi, titipkan hati kita cukup ke Allah saja dan minta tolong untuk dijaga dan dilindungi dari kekerasan hati..