| Surat dari temen-temen SMP yang masih ku simpan |
Beberapa hari lalu sebelum
akhirnya aku menulis ini Cho.. aku berhura-hura dengan kebulan debu kamarku.
Tumpukan buku, barang yang sudah mengantri untuk dibuang dan tumpukann baju
yang baru kering dijemur membawa keberuntungan hari itu. Bukan karena aku
menemukan selembar uang di kantung baju.. tapi si kotak pandora yang berisi
ingatan dan rasa dimasa lalu.
Halah.. berlebihan aku bilang
kotak pandora, Haha. Tau saja Cho, yang ku maksud kotak pandora itu adalah sebuah
laci yang berisi tumpukan-tumpukan surat yang ku terima dari teman-temanku
dulu. Ya, aku menemukan teman-temanku di laci. Mereka kutemukan dengan membawa
kenangan dan rasa di masa lalu yang masih dapat tersimpan dengan baik. Bukan
hanya tersimpan dalam ingatan, tapi semua rasa itu tertuang dalam surat-surat
yang kuterima dari mereka. Sampai sekarang aku masih menyimpannya dengan baik
Choco.. Yap! Mualilah reuni imajiner.
Hehehe Cho.. bukan masalah isi
surat yang akan kuceritakan padamu. Tapi aku mau menceritakan mengenai rasa
yang kembali itu. Jaman sekaran Cho, tidak perlu susah-susah mengirimkan pesan
ke teman-teman atau saudara kita yang jaraknya tidak cukup ditempuh dalam
sehari-dua hari. Ketik Sms, langsung sampai. Kirim email, langsung sampai. Telfon
juga bisa, justru alat komunikasi sekarang bisa dibawa kemana-mena dan tidak
seribet dahulu kita harus mengirim pesan lewat telegram. Perasaan yang ingin
disampaikan ke teman dan saudara mungkin masih akan tertunda sedikit sebelum
akhirnya pesan sampai. Yang sekarang terjadi, semua orang bisa saja
sebentar-sebentar mengungkapkan rasanya lewat sms. Sedang kesal, sms saja..
langsung tersampaikan. Sedang senang, sms saja... teman kita langsung tau.
Sedang bingung, sms saja.. teman kita akan segera memberi jawaban. Begitu
mudahnya kita mengungkap rasa. Sampai-sampai, begitu mudahnya pula kita
menghapus rasa itu.
Jaman SMA, nama pengirim surat masih diperbolehkan alay. Tapi itu yang ngangenin
|
Iya kan Cho? Pesan yang kita
terima lewat sms dan email, apa lagi lewat telfon mudah sekali langsung hilang.
Jika kapasitas memori di handphone sudah penuh, pasti ada yang harus segera
dihapus. Pesan email, bisa saja disimpan kemudian di print. Tapi amat jarang
sekali orang melakukan hal tersebut. Hahaha, Cho.. aku sedang memanggil rasa
senang itu ketika menulis dan menerima surat. Memang sudah bukan jamannya lagi
sekarang kirim surat. Mengingat sudah ada teknologi yang memudahkan dalam
pertukaran informasi. Tapi Cho.. ada yang tak bisa tergantikan oleh teknologi
secanggih apapun itu, yaitu rasa senang ketika kita menerima surat dari teman
dan saudara kita. Rasa senang ketika kita membuka kembali pesan yang diterima
beberapa tahun sebelumnya.
| Kartu pos yang ku kirim untuk teman-temanku yang jaraknya ribuan tahun cahaya. Dapet kiriman balik kah? |
Surat-surat yang kutemukan
banyak datang dari teman-teman SMP, SMA, teman rumah dan saudara-saudarku.
Teman kampus? Aduh boro-boro, kami terlalu sibuk terjebak dalam rutinitas
sehari-hari. Sms sepertinya sudah cukup karena kami terlalu sibuk. Cho, aku
ingin menginvestasikan rasa itu di masa depan kelak. Jadi aku coba meminta
alamat mereka untuk aku dapat mengirimkan surat suatu saat nanti. Tapi ah..
kartu pos yang rencannya ingin kukirimkan ke teman-temanku akhirnya ku kirimkan
sendiri melalui tanganku. Aku kirimkan dari Jakarta, tapi ternyata kartu pos
baru ketahuan sampai di Jogja ketika aku pulang. Hahaha.. semoga teman-temanku
berkenan manyimpannya. Akankah mereka juga mamanggil rasa itu suatu saat nanti
di masa depan? Entahlah, kalau tidak berarti investasiku gagal. Ya, gagal
menananmkan rasa itu..
Ehm, bicara soal rasa Cho..
teman-teman SMP dan SMA ku sangat berhasil menginvestasikan rasa itu padaku.
Ketika aku mambuka satu persatu tumpukan surat dari meraka, betapa lupa.. aku
lupa bahwa dulu aku pernah bersenang-senang. Dari tulisan mereka aku ingat
bahwa dulu aku pernah membuat lima orang teman-teman ku patah hati padaku.
Hahaha.. aku baru ingat bahwa saat SMP aku merupakan anak yang sangat terbuka
kepada siapapun. Dari tulisan mereka juga aku ingat, pernah membuat orang
mengucilkanku dan akhirnya mereka sendiri yang meminta maaf.. Rasa-rasa itu
muncul kembali Cho.. meski mereka sudah memiliki kehidupan dan kesibukan yang
berbeda, mereka masih hadir dalam ingatan yang tersimpan dalam
lembaran-lembaran kertas.
Oh, friends.. I wish you were here.
Aku juga berharap selalu
memiliki ingatan yang baik dengan teman-temanku yang skarang. Bolehkan aku
memanggil rasa senang ini suatu saat nanti?

0 komentar:
Posting Komentar