MelihatMu dari Ketinggian: Now I See You!

by 03.14 0 komentar

Kita bisa menemukan banyak orang-orang hangat di ketinggian yang dingin


Pernah lihat gumpalan awan besar sedekat ini Cho?



Choco.. masih ingat dengan tulisan pertama yang kuceritakan padamu? Tulisan anak alay yang baru mengenal bahasa. Setelah 4 tahun aku membacanya kembali, geli rasanya. Ingin menertawai diri sendiri Hahaha. Tulisan itu Cho, mengenai tempat-tempat indah di pertiwi yang mau ku kunjungi. Setelah 4 tahun aku menuliskannya, tulisan itu hampir mencapai tujuannya, walaupaun tidak terpenuhi sepenuhnya atau bahkan telah melampaui apa yang ku inginkan ketika itu (lihat:Tempat di Pulau Jawa yang Ingin Saya Kunjungi). Aku mau menceritakan padamu mengenai pertemuan yang telah melampaui apa yang kubayangkan. Di sini Allah menunjukan kepada ku KuasaNya, Allah mengizinkan MemandangNya dari ketinggian. Kuharap ini baru permulaan untuk perjalanan selanjutnya!

Aku ini satu-satunya anak perempuan di rumah. Orang tua terutama bapak paling susah membiarkan anaknya jauh dari jangkauannya. Ketika aku masih kecil, bermain dengan kawan-kawan di luar rumah akan mejadi hal yang paling menakutkan. Karena aku ini anak yang culun, sering sekali menjadi target bullying, terutama ketika aku tinggal di Bogor dan awal-awal pindah ke Jogja. Lama kelamaan proses tersebut membuat anak sekecil itu tumbuh dengan hati yang keci pula. Tidak suka bermain dengan sesamanya, tidak pernah bermain keluar rumah dengan teman sebaya dan akhirnya membuat dunia sendiri.

Cho, seperti halnya kamu. Kamu adalah anak kecil laki-laki yang kuciptakan untuku bisa bercerita kesana-kemari. Saat kecil hingga sekarang, aku memiliki banyak teman imajiner yang biasa menghampiriku saat aku sendirian. Jika aku di ruangan, biasanya akan ada yang menghampiriku untuk mengajak bercerita, tepatnya aku yang bercerita Cho.. menceritakan apapun yang tak tersampaikan. Tapi beberapa kali aku terpergok teman bahwasanya aku sedang berbicara sendiri! Karena telah beberapa kali aku dipergoki, akhirnya aku sadar diri Cho, bahwasanya aku sedang sakit. Aku menciptakan teman-temanku, agar mereka menghampiriku dan mau mendengarkan apa yang ingin kuceritakan kepada mereka.  Hal tersebut mulai mengganggu tentunya. Akhirnya tanpa ada paksaan dari manapun, aku mengikuti konseling ke psikolog. Konselor itu bernama mbak Diah. Dengan sabar dia mendengarkan ceritaku, beliau bilang,”Bisa saja ini gejala scizophrenia

Satu-satunya tawaran untuk ku agar bisa sembuh adalah dengan menjadi orang yang terbuka. Memiliki sebanyak-banyaknya teman dan tidak sungkan untuk bercerita. Mengutarakan apa yang diinginkan baik secara lisan maupu tulisan. Menghindari kesendirian yang bisa memicu teman-teman yang kuciptakan datang lagi.
Cho, iya memiliki banyak teman itu hal yang sangat menyenangkan. Dengan memiliki teman kita akan dengan mudah membagi rasa yang membebani. Bukan untuk memindahkan beban itu kepada yang lain, melainkan kita akan saling berbagi rasa ringan, “bahwasanya kamu tidak sendiri, rasa khawatir berlebihan itu yang membuat kita merasa berat”. Terkadang, menghampiri teman dan bercerita bukan semata-mata untuk mencari solusi. Melainkan kita sedang mencari orang yang bersedia mendengarkan dan akan menjadi pihak yang membersamai kita dalam menghadapi masalah. Dan iya, aku menemukannya. Seperti menyusun mozaik Cho.. aku menemukan mereka satu persatu.
Sekarang, aku ingin berterimakasih satu persatu untuk teman-temanku  yang secara tidak sadar sudah membantuku dalam masa penyembuhan Cho..

Partner in Crime 
Untuk kalian, Anis Listyarini  dan Yudithia Damayanti. Aku mau berterimakasih sebanyak-banyaknya terhadap kalian. Bagaimana awalnya aku bisa masuk dalam lingkaran kalian, aku lupa. Yang ku tahu kalian berdua saling mengisi menjadi partner in crime. Aku menjadi salah satu dari kalian tanpa persyaratan rekuritmen ala mafia. Terimakasih terus membersamaiku. Hingga akhirnya kebersamaan itu harus sejenak berjarak sekarang. Ya, keterbukaan dan kebersediaan kita diuji pada level yang paling tinggi.  Berpisah bukan menjadi jalan yang paling buruk. Ini adalah masa rehat yang diberikan Allah untuk kita saling memahami satu sama lain dari jauh dengan rasa hormat lebih. Seolah-olah menjadi orang yang baru dikenal, padahal sesungguhnya ada do’a dalam diam yang kalian terbangkan ke langit-langit. Nis.. Dith, jujur aku merindukan masa-masa kebersamaan itu, tapi aku tahu bahwasanya kita sedang berendam dalam rasa kecanggungan. Dari kalian aku belajar mendengarkan. Dari kalian aku belajar memahami apa yang diceritakan, dari kalian aku belajar untuk menerima kekurangan teman, dari kalian aku belajar bertahan dalam kekurangan kawan. Untuk tidak meniggalkan, untuk tetap menjaga komunikasi. Dari kalian pula aku bisa berani bererita. Apa kabar kalian? Aku agak geli ketika Anis bilang,  “Aku sama Yudith udah kayak orang yang habis putus, diem-dieman malu-malu gitu” Hahahaha, mana ada kamu pernah pacaran, ini cobaannya melebihi orang pacaran Nis.. pacar bisa aja jadi mantan, tapi pertemanan tidak pernah diawali dari kata sepakat “kita berteman” , tidak ada pernyataan khusus. Jiwa-jiwa kita sudah pernah bertemu sebelumnya sehingga kita tidak pernah menyepakati pertemanan ini di kehidupan nyata.  Merindu kalian.. partner in crime.
Partner in Crime!
Bareng Abang Yudith, Lawu 3265 mdpl
Senior partner, Anis.. Ayo foto bertiga



Pencarian Titik Balik
Terimaksih untuk teman-teman sejalan yang sabar menghadapi keusilanku  di taraf orang-orang kalem seperti kalian. Teman-teman ph JMMB 1434, terutama mbak Umi Mu’avatun, Annis Fatmawai, Dewi Rakhmawati, Cahyo Adi Wibowo, Ali Muharom, Ibnu Sina, M.Muslih Muhtadi. Aku tahu kita semua (kecuali Muslih dan Dewi) adalah mantan orang-orang badung, walaupum sampai sekarang masih ada beberapa dari kita yang masih badung hahahahaha. Terimakasih untuk kesabarannya dalam membersamaiku, bersabar, membrikan pemahaman yang baik bahwasanya semua orang akan menemukan titik baliknya. Kalian orang-orang yang memberikanku rasa aman dalam belajar sehingga aku tidak perlu merasa ketakuatan dalam memahami isyarat Tuhan. Terimakasih, kalian orang-orang yang berbeda yang ku kenal dari orang-orang yang biasanya ku kenal. Terimakasih dalam membantuku menemukan titik balik itu. Hanya dengan kalian aku bisa keras melawan dan cerewet memecah kekakuan.
Kaki gunung Merapi. Bersama Kalian orang-orang sibuk (kiri ke kanan): Mbak Umi, Luthfi, Irma, Ali, Cahyo


Cuma Kamu yang Bisa Mbak..
Untuk Murobbi ku, Mbak Miftakh Dinianingrum.. kamu satu-satunya Murobbi yang masih mau kuhubungi di saat-saat kamu masih sibuk mengerjakan tugas akhir. Ya, karena kamu yang paling membekas. Sampai berkali-kali aku terus bertanya, “kapan wisuda? Apa kabar?” Cuma ke kamu mbak aku jorjoran mengenai ketidaknyamananku tentang dunia kampus yang kaku, cuma ke kamu mbak aku cerita tentang orang yang pernah membuatku nanar karena perangainya, Cuma ke kamu juga aku bisa banyak bertanya. Dari yang biasanya aku hanya mengatakan iya dan menundukan kepala saat melingkar. Terimakasih kamu menjadi salah satu orang yang ikut dalam proses penyembuhanku mbak.. karena dengan kamu aku bisa menjadi orang yang lebih terbuka.

Konflik ala Anak Kost
Dan Cho.. ini pertemanan yang terbentuk karena terjebak waktu dan tempat. Selama kurang dari 2 bulan, semua kebusukan sehari-hariku dan mereka saling terbuka satu persatu! Kalian, teman-teman satu pemondokan dalam masa pengabdian ke masyarakat selama di perbatasan Indonesia-Malaysia. Terimakasih.. kalian orang pertama yang menemaniku di perantauan jauh, bertemu orang-orang asing dan memaksa berkeluarga dengan orang-orang yang awalnya asing seperti kalian. Untuk Rachmita Dewi, Sinthiya, S.N. Salita N., mbak Umiyati, Restu Puji A., mbak P.Whulandari.. Bisa seharian kita dikamar bercerita kesana-kemari ketika seharian tidak ada pekerjaan. Rewel membahas masakan dan kadang bisa sedikit berkoflik batin masalah cara masak dan menu masakan.  Terimakasih kalian mengenalkan ku pada konflik-konflik kecil keseharian ala anak kost. Dari kalian aku belajar untuk menahan diri dan mengatakan pada diri, “itu hanya perasaanmu saja yang membuatmu berat, tidak ada masalah besar” terus aku mengatakan hal seperti itu hingga akhirnya pada suatu pagi aku melarikan diri dari pemondokan. Karena Cho.. disaat seperti itu tidak ada tempat untuku bercerita. Keadaan itu memaksaku tak mamapu memanggil teman-teman imajinerku untuk mendengarkan kata hati yang tak tersampaikan kepada telinga-telinga manusia. Aku hanya terus berbisik, “itu hanya perasaanmu saja yang membuatmu berat, tidak ada masalah besar”  dan Cho.. semua perasaan dan permasalahan itu kubawa keluar pemondokan,  aku bisa mengatakan pada mereka jika aku baik-baik saja.


Mountaineer dan laki-laki Flamboyan
Untuk para Mountaineer Teknik, terimakasih banyak sudah  bersedia mengenalkan ketinggian, hanya kalian yang berani membayar janji bepergian tanpa wacana. Dari Pahu Dieng, Merbabu sampai Lawu. Muhamad Hafiyyan Mayada, Prayoga Isyan para Mountaineer dari pemondokan dan kalian juga para laki-laki flamboyan Ahmad Ridwan juga Heru Pranoto. Terimakasih, dari situ banyak pelajaran yang kalian kenalkan dalam melawan diri sendiri. Melawan ketakutan dan rasa lelah, memaksa diri untuk  keluar dari zona nyaman. Terimakasih.. dari sini aku bisa bertemu banyak orang dan memandang dunia. Dari ketinggian ini, bukan kita yang dipandang oleh dunia. Tapi kalian mengajakku untuk melihat dunia. Betapa kecilnya manusia, betapa tidak ada bandingannya jika kita disejajarkan dengan KuasaNya. Ya Allah.. aku bisa memandangMu dari ketinggian. Bahwasanya permasalahan yang aku rasakan tiada besar dihadapan banyak orang. Orang-orang diatas gunung begitu bersahabat, disana aku banyak bertemu dengan orang. Di sana aku menemukan orang-orang dengan keadaan yang sama, saling membutuhkan satu sama lain untuk dapat mencapai tujuannya, ya.. untuk selamat sampai pulang saat mendaki dan turun. Kedaan itu mambuat para pendaki menjadikan orang-orang yang ditemui sebagai saudara. Tidak pernah aku menemukan tempat sehangat itu Cho.. sangat berterimakasih kepada kalian yang memberiku kesempatan untuk merasakan pengalaman ini. Sehingga  aku bisa melihat permasalahanku dari ketinggian. Betapa kecilnya aku! Betapa kecilnya permasalahan yang sesungguhnya aku rasakan, tidak ada kesepian yang kurasakan di puncak sana.
Lawu, bersama mereka yang masih bersedia melanjutkan pertemanan setelah kurang dari 2 bulan hidup di perbatasan. (kiri-kanan): Dewi, Yoga, Siska, Hafiyyan, aku
Bareng temen-temen Teknik Sipil, puncak Kenteng Songo-Merbabu: Helmi, Hafiyyan (lagi)
Puncak Prahu, Dataran tinggi Dieng


Cho.. perjalanan ini telah melampaui dari apa yang kutuliskan 4 tahun yang lalu. Perjalanan ke suatu tempat akan mempertemukan kita kepada orang baru. Aku mulai belajar untuk selalu bersabar dan bersyukur. Bahwasanya manusia tidak pernah sendirian, tidak perlu memanggil teman imajiner dan bercerita kepada mereka. Jika aku perlu didengarkan, sekarang aku hanya perlu mengadu kepada Allah dan sedikit berusaha untuk berjalan menemui orang yang kusayangi.. itu lah meraka, teman. Ada nikmat Allah yang harus kujemput, rasa nikmat itu adalah mereka yang kusebut teman. Now I see you guys!

gudang kata choco renji

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar