Anggap Saja Saya Pernah Berpacaran

by 02.36 0 komentar
Pacaran itu barang yang tidak bisa dibandingkan denga menikah, jauuuuuh... yah meskipun saya bukan pelaku aktif pacaran saya sudah tahu bagaimana rasanya. Pacaran itu hanya sekedar aktifitas untuk memenuhi keingginan kita untuk dekat dengan orang yang kita simpati terhadapnya. Hanya perasaan itu diungkapkan dan tiba-tiba menjadikan kita seolah-olah berkomiten untuk terus bersama orang yang kita inginkan. Apa jaminannya? tidak ada! ini hanya kegiatan untuk memenuhi hasrat kita yang ingin terus bersama orang yang kita suka. Saat kita berpacaran, yang nampak dari orang  yang terus kita bersamai hanyalah kenampakan baiknya. Teman, apakah kamu pernah berfikir sebenarnya apa yang sedang dilakukaan saat dia tidak sedang bersamamu? Jangan membohongi diri sendiri. Cobalah tengok, sikap apa yang selalu kita pasang saat berhadapan dengan orang yang disebut dengan pacar? dan bandingkan dengan sikapmu sehari-hari kepada kedua orang tua? Apakah sama? Teman.. kita selalu menampakan sisi baik dan sikap kita yang baik saat bertemu dengan orang yang kita sebut pacar. Namun ketika kita marah dengan kedua orang tua, apakah kita mau dilihat sebagai orang yang bersifat seperti itu dihadapan orang yang kau sebut pacar? hah.. ini lah, yang ujung-ujungnya akan membuat hubungn itu berakhir ketika kita sudah saling mengetahui kejelekan masing-masing. Jika sudah tidak tahan, ujung-ujungnya juga putus.. kandas. Kegiatan pacaran bisa saja kamu lakukan dengan sesuka hati bersama orang yang kita suka. Tidak butuh komitmen. Tapi yang namanya pernikahan, butuh komitmen dan tidak bisa disamakan dengan berpacaran. Siapa yang bilang bila pacaran itu latihan berumahtangga? sehingga saat menikah sudah lebih terbiasa dan sudah mengenal satu sama lain? itu hal yang salah! Teman, sebagai anak yang mengamati kehidupan pernikahan kedua orang tua, minimal kita sudah paham mengenai ini. Pernikahan akan menuntutmu menerima setiap kekurangan orang yang akan bersamamu. Ketika terdapat perbedaan dan kejelekan sifat dari orang itu, tidak semena-mena kita bisa mengakhirinya dengan kata 'putus'. Sekarang kamu dihadapkan dengan tanggungjawab kepada orang tuanya, kepada dirinya yang telah kau minta dan kepada Allah.

Oke anggaplah ini sebagai bentuk saya berbagi. Saat saya masih SMP, saya paling hobi menemani teman saya untuk mengejar-ngejar orang yang dia suka. Menemani teman saya bertemu dengan pacarnya yang tempat tinggalnya di dekat kali dan saya ditinggal dipingir kali untuk mereka bercengkrama. Betapa bodohnya saya dulu. Iya saya akui, kegiatan mengejar-ngejar anak laki-laki dan mendengarkan teman saya yang berbahagia karena menyukai laki-laki itu nampak menyenangkan. Iya saat itu masanya transisi dari anak-anak menuju remaja. Perasaannya masih labil dan fikirannya masih sangat cekak. Dulu saya senang-senang saja menuruti permintaan teman saya untuk menemani dia menemui pacar-pacarnya. Namun, setelah saya berkali-kali dia tinggal asik melakukan kegiatan itu, saya terus dicampakan. Dia hanya menemui saya ketika di butuh. Akhirnya saya memutusakan untuk berpisah dengannya dan mencari teman yang lebih baik. Apa dia peduli? Entahlah.. toh dia telah menemukan teman yang lain yang setia menemaninya untuk mengejar-ngrjar laki-laki lainnya. Secara tidak langsung saya sudah mengetahui bagaimana dan apa rasanya melakukan kegiatan tersebut. Tapi seketika itu pula saya menjadi orang yang paham bagaimana imbas dari kegiatan tersebut. Pacaran tidak dibutuhkan komitmen. Kalau sudah nampak jeleknya dan berasa ingin berpisah. Tinggal bilang putus.. cari yang lain, yang lebih baik.

Kakak saya orang yang aktif berpacaran, saya harap suatu saat dia membaca blog ini. Saat kakak saya sedih saat berpisah dengan pacarnya, saya menjadi orang pertama yang mendapatkan efek dari moodnya yang jelek. Saya sudah berkali-kali beritahu dia, yang ada justru kepala saya lebih murah dibandingkan sepatu yang dia lemparkan ke wajah saya. Oke terserah.. saat kamu menangis yang diakrenakan diputuskan pacarmu, urusi sendiri kesedihanmu dan jangan sekali-kali meminta pendapat mengenai bagaimana seharusnya perempuan, aku tidak mau menjawab.

Kini saatnya saya dihadapi kesulitan bersikap sebagai anak yang terus-terusan meihat pertengkaran kedua orang tua. Sudah 23 tahun, ternyata belum dapat mendewasakan usia pernikahan keduanya. Belum cukup untuk memahami satu sama lain, dan terus-terusan yang dipermasalahkan adalah permasalahan yang sama. Tapi mengapa mereka masih bertahan hingga sejauh ini? Pernah saat saya masih kecil, saya secara pribadi meminta kepada kedua orang tua saya agar mereka bercerai. Saya dan kakak saya sudah sepakat untuk berbagi, saya ikut bapak dan kakak saya ikut dengan Ibu. Saat saya mengutarakan hal tersesbut yang ada justru membuat ibu saya sedih, beliau menangis. Saya benar-benar masih lugu saat itu. Hingga akhirnya saya tau apa yang menjadi akar masalah yang dari dulu tidak pernah terselesaikan. Setelah saya cukup besar, baru Bapak bercerita bagaiman akhirnya mereka menikah. Pada intinya, tidak ada alasan kuat, tidak ada komitmen, tidak ada dasar jelas yang melandasi pernikahan kedua orang tua saya. Salah satu dari keduanya (maaf saya tidak bisa becerita banyak) dipaksa untuk menikah oleh salah satu pihak keluarga. Bila pernikahan tersebut tidak dilakukan, akan ada fitnah dan pemutusan hubungan saudara. Beginilah akhirnya.. saya sering melihat pertengkaran kedua orang tua saya dimanapun. Pernikahan butuh komitmen yang kuat, sementara pacaran bisa kamu lakukan sesuka hatimu.

Pacaran bisa kamu lakukan sesukamu kok. Tapi apa kamu tega membagi-bagi hatimu kepada banyak orang? Oke, ada pernyataan yang mengejutkan dari kakak saya yang aktif pacaran. Dia pernah menyampaikan begini, "Eh.. pasti nyakitin bagi seorang laki-laki mendapatkan pernyataan, 'selamat kamu telah mendapatkan bekas (mantanku)' saat dipernikahannya" Ehm.. intinya dari pembicaraan itu, bagaimanapun tidak ada orang yang mau mendapatkan hati yang telah dibagi-bagi ke orang lain. Sekarang bertanyalah pada hatimu, apakah kamu tega memberikan yang tidak utuh kepada orang yang seharusnya berjodoh denganmu?

Satu pesan lagi, ini pelajaran yang bapak berikan kepada saya anak perempuannya. Saat itu Bapak sedang bengah melihat perilaku anak orang yang berpacaran didepan banyak orang juga tanpa malu. saling berpangkuan dan menggeliat-geliat geli. Bapak becerita ketika itu anak laki-laki yang dia lihat kepalanya dipangku dipaha si anak perempuan yang menggunakan celana pendek. Bapak kemudian bilang, "Betapa bodohnya anak perempuan itu, kasihan sekali. Apakah dia tidak berfikir bahwa laki-laki itu juga bisa melakukan hal yang sama terhadap perempuan yang lain?" Pelajaran lagi. Jangan mudah bersimpati terhadap lawan jenis, apakah kamu tidak berfikir bahwa dia juga akan melakukan hal yang sama pada orang lain? Apa lagi menghadapi laki-laki yang genit, hah.. jauh-jauhlah. Jangan-jangan kamu perempuan nomer sekian yang telah dibuai oleh sikap berlebihannya itu.

image source: http://www.layakbaca.com/2012/08/walpaper-dan-gambar-kartun-muslim.html

gudang kata choco renji

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar