| Apakah kita hanya kenal untuk satu periode kepegurusan saja? menurutku lebih |
Hai Cho, ini adalah yang paling
aku takuti ketika mengenal orang dan bisa dikatakan jika sudah terlanjur
“akrab”. Cho, semua orang dengan sikapnya yang sekarang merupakan hasil
pembelajaran dari berfikir dan pengalaman. Orang memiliki sifat yang begini maupun
begitu karena sangat terpengaruh banyak orang disekitarnya. Semua orang yang
berpengaruh terhadap sikap kita sekarang aku sebut sebagai teladan.
Cho, maungkin telah banyak orang
yang ku teladani. Teman-temanku salah satunya. Kekhawatiranku akhirnya terbukti
juga. Sikap berlebihanku ini yang sebenarnya melukai diriku sendiri. Cho, aku
sudah menganggap teman-temanku sebagai tauladan untuk diriku. Yang sikapnya
keras, sopan hingga begitu lembut. Namun ketika orang tersebut melakukan hal
yang berkebalikan dengan yang selama ini ku pahami tantang mereka, aku sedih
Cho.. sedih.
Sebenarnya hal itu tidaklah adil
jika terus-terusan menganggapnya seperti itu. Berharap jika orang-orang akan
terus bersikap seperti yang kita harapkan. Toh mereka juga manusia kan Cho?
Tentunya aku tidak memiliki hak untuk menuntut mereka bersikap sesuai
keinginanku. Manusia adalah temparnya salah. Yang paling penting adalah kita
mengingatkannya. Tapi apa daya aku juga lemah, Cuma bisa terus berdo’a untuk
teman-temanku:
“Ya Allah lindungilah
teman-temanku dari segala keburukan yang ditimbulkan dari diri sendiri maupun
orang lain”
Oke Cho, aku tidak bisa banyak
cerita banyak. Intinya begini, mereka adalah orang-orang yang kusayangi. Tidak
mungkin aku menceritakan mereka dalam tulisan ini. Salah satu perumpamaan saja,
bagaimana mereka mengajarkan mengenai interaksi dengan lawan jenis. Mereka
memberi contoh untuk tidak berlebihan saat bicara dengan lawan jenis, mereka
memberi contoh agar tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom kita,
mereka memberi contoh bagaimana agar tidak selalu mengambil hati dari segala
sikap lawan jenis. Kemudian Cho, bagaimana jika suatu saat mereka kudapati
boncengan, berduaan dengan orang yang bukan mahrom, jalan bareng hingga mereka
(ah yang ini aku nggak bisa cerita) Aaaaaaagh! Entahlah harus bilang apa. Itu
perumpamaan yang nyata Cho! Itu terjadi pada teman-teman di sekitarku. Baik di
lingkungan sekolah maupun kampus. Choooo, nggak adil bila aku membenci mereka,
nggak adil! Hal itu bukan untuk sekali-dua kali aku melihatnya. Kemudian
haruskah segala yang kudapatkan dari mereka ku kembalikan? Segala kebaikan dari
mereka harus aku kembalikan? Segala rasa percaya kepada mereka juga harus
kukembalikan ke nol?
Cho, sampaikan kepada mereka
bahwa aku menyayangi mereka. Ada benyak kebaikan yang telah kuambil dari
mereka. Teman-temanku bukanlah sekedar bunga yang bila habis madunya kemudian
dibuang. Tapi pertemanan adalah merawat bunga-bunga itu agar terus
bermekaran...
Berteman harus siap menerima konsekuensi, iya kah? Iya Cho! bukan hanya sekedar menerima kebaikan dan rasa nyaman kemudian kita akan terus membersamainya. Lalu, siapkah kita akan terus berteman saat kita mengetahui keburukan seorang teman?
| Maaf nggak punya foto kalian berempat, kita tetep bisa berteman baik meski nggak selalu jalan bersama |
Berteman harus siap menerima konsekuensi, iya kah? Iya Cho! bukan hanya sekedar menerima kebaikan dan rasa nyaman kemudian kita akan terus membersamainya. Lalu, siapkah kita akan terus berteman saat kita mengetahui keburukan seorang teman?
“I love you all my friends, do
you love me too?”
Hhaaha, oh ya Cho.. kadang perlu
norak untuk bisa menyatakan rasa sayang ke orang-orang yang kita sayangi. Cho,
apabila ada temenku yang membaca ini dan mereka akan risih, sampaikan maaf juga
ya. Aku rela norak untuk mereka agar aku bisa terus berteman dengan mereka.

0 komentar:
Posting Komentar