Kalian yang Aku Sayangi

by 19.41 0 komentar
Apakah kita hanya kenal untuk satu periode kepegurusan saja? menurutku lebih

Hai Cho, ini adalah yang paling aku takuti ketika mengenal orang dan bisa dikatakan jika sudah terlanjur “akrab”. Cho, semua orang dengan sikapnya yang sekarang merupakan hasil pembelajaran dari berfikir dan pengalaman. Orang memiliki sifat yang begini maupun begitu karena sangat terpengaruh banyak orang disekitarnya. Semua orang yang berpengaruh terhadap sikap kita sekarang aku sebut sebagai teladan.
Cho, maungkin telah banyak orang yang ku teladani. Teman-temanku salah satunya. Kekhawatiranku akhirnya terbukti juga. Sikap berlebihanku ini yang sebenarnya melukai diriku sendiri. Cho, aku sudah menganggap teman-temanku sebagai tauladan untuk diriku. Yang sikapnya keras, sopan hingga begitu lembut. Namun ketika orang tersebut melakukan hal yang berkebalikan dengan yang selama ini ku pahami tantang mereka, aku sedih Cho.. sedih.

Sebenarnya hal itu tidaklah adil jika terus-terusan menganggapnya seperti itu. Berharap jika orang-orang akan terus bersikap seperti yang kita harapkan. Toh mereka juga manusia kan Cho? Tentunya aku tidak memiliki hak untuk menuntut mereka bersikap sesuai keinginanku. Manusia adalah temparnya salah. Yang paling penting adalah kita mengingatkannya. Tapi apa daya aku juga lemah, Cuma bisa terus berdo’a untuk teman-temanku:
Pertemanan kita sedang bertumbuh kawan, sampai jumpa di musin berbunga lagi :D

“Ya Allah lindungilah teman-temanku dari segala keburukan yang ditimbulkan dari diri sendiri maupun orang lain”

Oke Cho, aku tidak bisa banyak cerita banyak. Intinya begini, mereka adalah orang-orang yang kusayangi. Tidak mungkin aku menceritakan mereka dalam tulisan ini. Salah satu perumpamaan saja, bagaimana mereka mengajarkan mengenai interaksi dengan lawan jenis. Mereka memberi contoh untuk tidak berlebihan saat bicara dengan lawan jenis, mereka memberi contoh agar tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom kita, mereka memberi contoh bagaimana agar tidak selalu mengambil hati dari segala sikap lawan jenis. Kemudian Cho, bagaimana jika suatu saat mereka kudapati boncengan, berduaan dengan orang yang bukan mahrom, jalan bareng hingga mereka (ah yang ini aku nggak bisa cerita) Aaaaaaagh! Entahlah harus bilang apa. Itu perumpamaan yang nyata Cho! Itu terjadi pada teman-teman di sekitarku. Baik di lingkungan sekolah maupun kampus. Choooo, nggak adil bila aku membenci mereka, nggak adil! Hal itu bukan untuk sekali-dua kali aku melihatnya. Kemudian haruskah segala yang kudapatkan dari mereka ku kembalikan? Segala kebaikan dari mereka harus aku kembalikan? Segala rasa percaya kepada mereka juga harus kukembalikan ke nol?

Cho, sampaikan kepada mereka bahwa aku menyayangi mereka. Ada benyak kebaikan yang telah kuambil dari mereka. Teman-temanku bukanlah sekedar bunga yang bila habis madunya kemudian dibuang. Tapi pertemanan adalah merawat bunga-bunga itu agar terus bermekaran...
Maaf nggak punya foto kalian berempat, kita tetep bisa berteman baik meski nggak selalu jalan bersama

Berteman harus siap menerima konsekuensi, iya kah? Iya Cho! bukan hanya sekedar menerima kebaikan dan rasa nyaman kemudian kita akan terus membersamainya. Lalu, siapkah kita akan terus berteman saat kita mengetahui keburukan seorang teman?

“I love you all my friends, do you love me too?”


Hhaaha, oh ya Cho.. kadang perlu norak untuk bisa menyatakan rasa sayang ke orang-orang yang kita sayangi. Cho, apabila ada temenku yang membaca ini dan mereka akan risih, sampaikan maaf juga ya. Aku rela norak untuk mereka agar aku bisa terus berteman dengan mereka.

gudang kata choco renji

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar