Hai Choco, hari ini mentalku agak sedikit 'teroncang'. Revisi yang ku kerjakan sungguh-sungguh tidak ada artinya di bawah oret-oretan asisten praktikum. Jelas ini kesalahanku. Revisi tanpa terlebih dahulu bertanya apa maunya si asisten dan bagiamana seharusnya aku merevisi laporan. Bila tanggapannya seperti yang akan kusampikan di bawah ini, aku merasa sedikitpun tidak ada apresiasi atas kerja kami sebagai praktikan..

Sore kemarin setelah kami mencoba berunding dengan asisten mengenai nilai-nilai yang minim yang kami terima, banyak dari kami yang cuma ngelus-ngelus dada untuk mengatakan pada diri "sabar...sabar...". Cho.. kami berusaha agar apa yang selama ini kami usahakan itu tidak berujung dengan keluhan.

Sepulangnya kami berbincang dengan asisten, ada dua temanku yang mengambil hasil koresi ke laboratorium, Amalina dan Sri. Mereka tergopoh-gopoh membawa tumpukan laporan kelompok kami dan tiba-tiba Sri menghampiriku sambil berkata "Tul... laporanmu ngeri banget!" dan taukah Cho.. apa yang dimaksud ngeri oleh temanku?


Revisi laporan yang kuharap mendapatkan nilai yang lebih baik malah berlebel seperti ini;

"Males koreksi nih, revisinya kagak niat... Sudahlah kagak usah revisi klo gini caranya.. Ok? pake nilai yang kemarin aje"

Astaghfirullah.. rombongan teman-teman yang mau pulang pada ngeri benar Cho lihatnya. Teman lain yang bukakn satu kelompok praktikumku juga mendadak naik darah lihat komentar yang seperti itu.

Cho ada banarnya omongan anak teknik. Aku pernah diajari seperti ini Cho, "Kalau ke kampus, hatinya ditinggal di rumah atau di kostan aja, jangan ikut dibawa". Komentar itu membenarkan apa mereka ungkapkan Cho. Dunia kampus itu menuntut kita untuk melakukan segala sesuatunya dengan benar, hati tidak jadi ukuran untuk mencapai apa yang jadi tujuan. Jika menanggapi hal-hal sekcil itu menggunakan hati, dijamin.. lama-kelamaan hati kita justru 'kebas' alias mati rasa. Sangat disarankan sekali untuk meninggalkan hati kamu dan simpan seaman-amannya di rumah atau kostan Cho.. untuk lebih aman lagi, titipkan hati kita cukup ke Allah saja dan minta tolong untuk dijaga dan dilindungi dari kekerasan hati..


Cho.. beginilah ceritanya bila kamu kadi tempatku untuk bercerita. Lega, tapi tidak ada solusi ketika selesai aku menuliskan segala masalahmu padamu, Choco..

Cho, aku ini tak pandai berkawan, punya teman dekatpun pasti aku jauh. mungkin aku menjadi salah satu anak perempuan yang selalu berjalan sendiri di kampus, tak punya teman duduk yang tetap dan tak punya kawan untukku bercertita tentang segalanya. Kau tau kan Cho.. kebanyakan anak perempuan pasti memiliki 'klik' yan akan nampak bersamaan ketika mereka jalan. bermain, belejar hingga melakukan segala aktifitas kampus. Bila kau menemukan A, pasti dia akan bersama B. Aku sudah tak punya Cho.. mungkin harus kusadari aku ini oranh yang soliter, tapi tak mampu selalu berjalan sendiri juga.

Ketika aku sedih atau sakit Cho, siapa orang pertama yang ku kabari? aku belum punya list teman. Ketika temenku sakit, apakah aku menjadi orang pertama yang menjenguk temanku? apakah aku menjadi orang yang pertama mengetahui kabar mreka? Bagaimana bisa aku meminta diperhatikan sementara aku tidak pernah memperhatian oran lain, sudah sunatullah..

Aku hampir lupa Cho, bahwa seseungguhnya ada yang Maha Mendenarkan. Dia yang mendengarkan sedihku meski akau tak berkata. Dia yang mengetahui hendakku meski ku tak bercerita, Dia yang memberikan jalan meskipun aku lupa berdoa. Ialah Allah,.. dan bagaimanapun tetap harus memperbaiki hubungan antar manusia juga. Itu yang masih belum bisa ku perbuat.

Sekarang hatiku sedang di bolak-balikan Choco. Maka sudah berhari-hari aku berdoa untuk ditetapkan hatinya.. sedang butuh dikuatkan. Aku ini orang yang berhati lemah..

Biar template warnanya hitam, kuning dan putih.. saya mohon dengan sangaaaaaaaaaaaaat, jangan kaitkan warna tersebut dengan salah satu parpol yang saya sebutkan di judul. Memang kebetulan tamplate yang saya gunakan ini temanya "Lime" jadi wajar kalo ada kuning-kuningnya :p
Ini salah satu bentuk konfirmasi, maaf agak gak penting tapi harus tau! saya bukan anggota maupun penggalak parpol tsb. Terimakasih

Image source: http://www.newgrosir.com


Chocoooo!
lama tak bersua, aku mau menhidupkan kembali blog kita. Cho, kali ini aku mau menceritakan kepadamu soal 'kesetengahan' hati yang akhirnya mengantarkan ku pada suatu kebingungan. Kuliah, organisasi yang sekarang ku pertanyakan kembali. apa tujuanku kesana? kenapa sekarang muncul fikiran untuk mundur? DISORIENTASI!

Oke, kuterangkan kepadamu dulu. sekarang aku sudah duduk sebagai mahasiswa semester 4 di Fakultas Biologi UGM. Di kampus aku mengikuti beberapa organisasi, antara lain Jamaah Mahasiswa Biologi, Jamaah Shalahuddin dan Kelompok Studi Entomologi. Ketiga organisasi yang ku ikuti merupakan organisasi yang tak pernah kurencanakan. Bahkan niat untuk masuk sebelumnya belum ada. Karena ikut terkena arus, akhirnya mengalir juga dan timbul pertanyaan. Apa tujuanku ikut-ikut organisasi itu?! pertanyaan itu muncul ketika telah jauh Cho... dan rasa goyah itu makin kuat ketika orang tua berkata,"Enggak perlu ikut-ikutan organisasi. kamu udah belok dari jalan yang kamu tuju di awal! " Cho.. tentu apa ang dikatakan Bapak menjadi dua bagian pisau. Begitu menguatkan ku untuk semakin ingin keluar dari organisasi, tapi di sisi lain perkataan Bapak juga begitu menyakitkan karena... aku sudah mulai menyukai jalan ini.

Cho.. memang dasarnya bukan pribadiku yang terlatih dengan alur organisasi. Sejak SMP, aku secara terang-terangan menentang ikut organisasi. Yang kulakukan hanya belajar, keluyuran main dan ngaji jika sedang insaf. SMA aku sudah mulai mengenal Rohis. Ya, aku tertarik bergabung dengan organisasi keislaman tersebut karena memang mulai tertarik dengan Islam. Tapi lama-lama, aku justru terlibat jauh di dalamnya. Jadi Pengurus harian selama dua periode. Dari track record Rohis itu juga yang membwaku jauh ke JMMB, juga JS. Sekrang aku menemani teman-teman di Bidang Media Opini JMMB, juga menjadi staff redaksi di Media Centre JS. Satu kelemahan yang masih terbawa Choco, aku paling tidak bisa jika harus menggunakan akhir pekan pergi ke kampus dan bermusyawarah ataupun mengikuti kegiatan-kegiatan yang menghabiskan waktu di ruangan! sehingga tidak ada waktuku untuk bapak-ibu dirumah. tidak ada waktu untukku mengunjungi teman-teman lama.

Sejak mengikuti organisasi di sekolah, aku mulai mengurangi jatah latihan taekwondo saat itu, bahkan sekarang aku sudah berhenti. Jadwal membantu bapak-ibu mulai berkurang karena selalu pulang ke rumah dalam keadaan lelah.. dan mulai autis kembali dengan tumpukan laporan. Kembali, aku menjadi pribadi yang pulang kerumah tanpa jiwa. sejak mulaii itulah, di semester tiga aku mulai sakit-sakitan. Bila terlalu lelah, aku akan mengalami istihadah parah dan migrant akibat begadang. Wajar jika bapak-ibu mulai khawatir dengan keadaanku Cho.. mereka merasa kehilangan anaknya. Pulang hanya untuk makan, tidur, mengerjakan laporan dan berangkat kuliah lagi..

Cho.. nampaknya terlalu naif untuk ku bilang bahwa aku akan baik-baik saja jika kuliah sambil berorganisasi. Pahit memang, aku tidak bisa membuktikan kepada Bapak bahwa aku akan baik-baik saja. ketika ditanya nilai, aku tidak bisa menunjukan nilai kuliah yang gemerlang. Ketika ditanya, apakah aku menikmati semua yang kujalani di organisasi. Ku bilang, '"Tidak juga, karena aku tidak suka menghabiskan banyak waktu di ruangan dan selalu terikat dengan sistem yang ada"
setenga hati Cho aku menjalaninya... aku belum mencapai ikhlas.

kalau memang ternyata bukan kapasitasku terus bertahan dalam struktur organisasi, seharusknya aku sudah keluar dari dulu. Ataukah sekarang kuputuskan untuk berhenti?
Aku ini bukan tipe orang yang suka teikat, aku harus mengakui itu Cho.. aku tidak mau berlama-lama menjalani hal ini dengan setengah hati.

Cho.. aku sudah mulai menyukai jalan ini. Dekat dengan orang-orang sholeh dan shalihah, orang-orang yang rajin dan semangat dan mulai menyumbang kemampuan yang pas-pasan untuk berbagi kebaikan, tapi satu yang tidak kubisa. Bertahan di suatu sistem organisasi yang selalu menuntut untuk di prioritaskan. Aku bukan tipe orang yang nyaman diikat Cho.. Astaghfirullah

Image source: http://www.123rf.com




UGM, Yogyakarta-UGM kembali menghadirkan mentri BUMN, Dahlan Iskan pada tanggal 28 Desember 2012 kemarin. Kali ini, Direktorat Kemahasisawaan UGM mengundang mentri Badan Usaha Milik Negara tersebut untuk mengisi kuliah umum.

Bertempat di ruang senat dua rektorat, Dahlan Iskan hadir bersama Rektor UGM hampir dua jam lewat dari waktu yang dijadwalkan. Acara yang sempat mundur, diisi materi pengembngan diri oleh pak Senawi.
Saat Dahlan Iskan datang, tanpa sempat duduk di kursi yang disediakan beliau langsung bercerita mengenai keterlambatannya. Kuliah umum yang molor dikarenakan rapat yang harus dijalani bersama jajaran dosen ahli di UGM.

Rapat yang dilaksanakan sebelum kuliah tersebut membahas mengenai penelitian-penelitian yang akan direalisasikan oleh BUMN menjadi sebuah produk. Dahlan Iskan mengungkapkan, setidaknya terdapat sembilan penelitian dosen ahli yang akan direalisasikan menjadi produk nasional. BUMN akan mengusahakan untuk memproduksi, memasarkan dan memasyarakatkan produk penelitian tersebut pada bulan juli 2013.

Beliau mengungkapkan bahwa birokrasi yang lambat dapat mengakibatkan waktu pelaksanaan realisasi produk terhambat. Sehingga beliau mengungkapkan, bahwasanya bila penggunaan APBN yang prosesnya lama dapat dibantu oleh BUMN. BUMN memiliki kemampuan seperti APBN, bila APBN tidak mampu dalam artian memiliki proses yang lama, fungsi APBN dapat diatasi oleh BUMN.

Dalam kuliahnya pak Dahlan Iskan juga sedikit menyinggung kejelekan-kejelekan orang yang berpenghasilan menengah atas (beliau menyebutnya dengan orang yang sudah tidak memikirkan besok pagi makan atau tidak). Bahawasanya orang-orang tersebut memiliki kejelekan diantaranya sudah tidak mau lagi diajak menderita, kemudian bila bicara keras entah pendapatnya benar atau salah dan terakhir memiliki keinginan yang serba cepat yang inginnya menyelesaikan sesuatu serba cepat. Kemunkinan, pernyataan terakhir mengenai kelemhan-kelemahan tersebut pak Dahlan sedikit menyinggung orang-orang yang menginginkan proses yang cepat di instansi tertentu.

Pada akhir pembahasannya pak Dahlan hanya memberikan dua solusi. Bila menginginkan penyelesaian yang cepat maka harus ada yang diubah. Merubah birokrasi atau masyarakatnya yang juga harus ikut-ikutan lamban, ujarnya.[AI]


                                                             
UGM, Yogyakarta (28/12)- Mentri Badan Usaha Milik Negara, Pak Dahlan Iskan untuk sekian kalinya hadir di UGM. Kehadiran Pak Dahlan Iskan ini memiliki dua maksud, yaitu untuk menemani teman-teman mahaasiswa dalam kuliah umum dan rapat bersama para pembesar di UGM.

Setelah ditunggu dari jam  yang ditetapkan, Pak Dahlan datang bersama Rektor. Acara yang hampir molor dua jam ini sempat disisipi pematerian mengembangan diri oleh Pak Senawi.

Dari balik pintu sebelah timur ruang senat dua rektorat, Pak Dahlan mengajak rombongan mahasisiwa yang tidak kedapatan kursi untuk duduk bersila di bawah. Tanpa sempat duduk di kursi yang disediakan Pak Dahlan langsung memberikan penjelasan mengenai keterlambatannya untuk rapat bersama pak rektor

Pak Dahlan banyak bercerita menganai rapat yang baru saja beliau jalankan bersamma pak Rektor. Di sela-sela pembicaraan yang serius mengenai kemantrian BUMN tiba-tiba  beliau menunjuk salah satu mahasiswa yag bejilbab merah, “Mbak yang berjilnab merah, kalau boleh tau jilbabnya di rumah ada berapa?”  Sontak seluruh seisi ruangan heran dan tertawa mendengar pertanyaan tersebut. Karena sebelum Pak Dahlan Iskan datang, Mbak-Mbak berjilbab merah juga ditanyai mengenai hal lain, dan ditanyai lagi oleh Pak Dahlan.

Sebenarnya bukan hanya si empunya jilbab merah saja yang ditinya. Sebelumnya juga terdapat salah seorang mahasiswi yang jilbabnya tampak nyentrik ditanyai mengenai hal yang sama. Pak Dahlan hanya berbagi cerita dari pemahamannya tentang perempuan yang berjilbab. Jika seorang meniliki jilbab tertentu, pasti akan di maching-kan dengan warna pakaian yang dimilikinya. Hingga Pak Dhlan ingin tau berapa jumlah jilbab yang dimiliki perempuan berjilbab.

Setidaknya perempuan berjilbab memiliki sekurang-kurangnya 15 jilbab tukasnya. Karena beliau sendiri mengungapkan bila istrinya memiliki persedian jilbab dalam tiga  lemari pakaian di rumahnya.[AI]



Hai Choco! beberapa pekan yang lalu aku mau menuliskan ini. Bercerita soal pengalaman dan bagaimana kalau sorang perempuan baru belajar untuk menjadi baik.

Sampai saat ini Choco, aku masih belum mau menggunakan istilah akhwat untuk menyebutkan teman-temanku, ataupun ikhwan untuk teman yang lain. Mau sorang yang berjibab besar, ataukah yang belum berjilbab, yang bercelana ketat ataupun yang sudah memakai rok, aku tidak mau membedakan istilah untuk mereka. Memang terkadang bila kita sudah terjun ke organisasi keislaman, pasti ada islitah yang memang sudah familiar untuk kata ganti perorangan: ikhwan dan akhwat. Kedua istilah itu jadi memiliki arti yang sempit yang ditujukan untuk mereka yang memiliki penampilan tertutup dan yang tampak alim. Sementara untuk teman-taman yang masih bercelana ataupun belum berjilbab jarang sekali istilah akhwat melekat untuk mereka. Oh ya satu lagi Choco.. istilah itu lebih sering ku dengar di dalam forum saja. Dan.. aku khawatir hal tersebut justru membuat orang-orang baik jadi tampak eksklusif dan berbeda dengan yang lain. Kita sama kok, kecuali takwa kita kan Choco? (cieeeehh... tumben serius). Menurutku, selagi panggilan itu baik sah-sah saja digunakan. Tapi jika panggilan itu justru membuat orag jadi merasa lebih minder karena merasa dibedakan, lebih baik jangan. Karena akhwat itu perempuan, dan ikhwan itu selamanya tetap laki-laki. Tapi Choco, kalau aku dipanggil ikhwan, itu baru aku enggan menerima, hahaha.

Pernah suatu saat aku berbincang dengan seorang mas-mas, dan nggak sengaja si mas ini menanyakan temannya yang mungkin kebetulan aku tahu, begini:
“Eh.. kamu kenal mbak Mawar*”
“Oh.. mbak Mawar* angatan 2007 po?”
“iya, yang orangnya itu berjilbab... belum jadi akhwat sih”
“eh.... ??” (dalam hati bertanya-tanya, emang kayak apa bentuk orang belum jadi akhwat?)

Yah, itu baru salah satu contoh saja bagaimana istilah akhwat memiliki makna yang menyempit untuk seorang perempuan. Sebenarnya tidak ada aturan bagaimana akhwat harus disebutkan khusus untuk mereka yang berjilbab besar, rajin mengaji dan yang tampak alim dan begitu muslimah. Terkadang aku juga kasihan Choco, jika ada perempuan yang secara sengaja memang sudah bergelar akhwat karena kesehariannya bersama orang baik, sering  diawasi sekali perilakunya. Maksud dari diawasi, orang-orang jadi lebih perhatian bila si akhwat ini memiliki sikap yang tidak seharusnya. Seperti cerita temanku yang baru saja bercerita tentang ke-sangsiannya karena ditegur oleh teman laki-laki.

Ceritanya begini Choco, temanku ini tidak sengaja melewati temenku yang lain. Tiba-tiba dia menghampiri duduk disampingku. Dengan nafas yang masih terengal-engal wajahnya tampak tidak enak. Dia bercerita bahwa baru saja dia diperingati oleh salah satu teman kami. Temanku ini baru diperingatkn karena pada hari itu dia menggumakan celana. Yang disayangkan yang memperingatkn adalah teman laki-laki. Aku tahu, pasti itu adalah yang yang sangat tidak mengenakan sekali. Hal seperti itu justru teman-teman laki-laki yang yang memperingatkan secara langsung. Temanku ini bercerita tentang ketidak enakannya.
“Tul, aku enggak suka kalau begitu cara ngingetinnya. Yah aku tahu, aku masih belajar. Tapi kalau begitu caranya aku beneran enggak suka”
Yang bisa kuambil dari hal ini ternyata Choco, diam-diam laki-laki itu lebih peka atau perhatian pada perubahan temannya. Sebenarnya aku juga tidak enak, kenapa bukan aku yang mengingatkan temanku. Justru teman yang lain, bahkan seorang laki-laki yang harus memberi tahu tentang pakaian yang sehari-hari kami gunakan.

Pribadi orang itu siapa yang tahu Choco, sering aku bercerita dengan teman-teman tentang bagaiman kami belajar untu menjadi oarng yang labih baik. Mulai menggunakan baju yang lebih layak dan tertutup, bagaiman kami harus menjaga pandangan, bagaimana kami merasa tidak enak ketika dibonceng laki-laki dalam keadaan darurat, atau akhirya kami membicarakan bagaiman seharusnya kami bersikap dihadapan seorang laki-laki. Semua itu proses belajar. Kami semua tahu tentang itu. Tapi di sisi lain, ternyata ada kalanya kami diperingatkan begitu keras yang akhirnya membuat tafsiran lain untuk kami tidak suka terhadap peringatan tersebut. Menurutu Choco, orang yang memperingatkan temanku untuk menggunakan rok lagi, baik. Namun bila caranya salah justru membuat orang smakin jauh. Karena Choco... suatu kebaikan tidak selamanya dapat diteima secara baik juga.

Kebanyakan kisah yang pernah ku dengar, teman-teman yang sedang belajar justru sangsi ketika diperingatkan begitu frontal. Hal yang kontras pernah kutemui saat aku tidak sengaja mendengarkan kumpukan kakak-kakak perempuan bercerita tentang hal ini juga. Kami sedang di mushola kampus, aku duduk di sudut mushola sedang menyelesaikan lapoan. Yang kulihat diantara mereka ada sekitar 3 orang. Yang dua orang berpakaian labar, menggunakan rok dan berjilbab besar, bisa dikatakan sebagai akhwat. Dan yang satunya masih menggunakan celana dengan baju berompi dengan jilbab yang tidak begitu lebar. Mereka saling bercerita tentang pengalaman mereka. Kakak perempuan yang beda tidak menggunakan rok ini bercerita tetang kesangsiannya. Oh ya Choco, ternyata mbak yang bercelana ini juga aktif mengaji. Dia bercerita bahwa dia merasa tidak senang saat di peringatkan begitu keras oleh guru ngajinya. Dia berkisah saat itu ia memang menggunakan pakiana yang apa adanya sperti sekarang ia kenakan. Saat selesai bercerita, salah satu temannya hanya menanggapi,
“Sebenernya kalau kita udah punya niat baik untuk berubah itu udah bagus...” ah, serasa hujan di tengah kemarau.
Pada intinya, semua orang itu ingin menjadi baik. Meski kebaikan itu masih menjasi cita-cita yang belum tercermin dalam dirinya. Niat yang baik itu sangat baik bila teman-teman yang paham mampu menuntunnya sedikit lagi.

Oh ya Choco,.. aku ini juga masih labil. Bila dijajarkan dengan teman-teman yang sudah paham aku belum mampu. Di rumahpun aku masih mengguanakan celana training olah raga jaman SMA. Aku masih sering mendengarkan lagu-lagu macam Simple Plan ataupun AX7.  Tapi aku senang bila duduk berjajar dengan teman-teman yang soleh-solehah. Apakah itu salah? Semoga Allah selalu menjaga niat baik orang-orang sepertiku, dan suatu saat nanti aku dapat menjadi pribadiyang lebih baik lagi. Amiin...

*bukan nama sebearnya, hehehe

sumber gambar:
http://guakampungan.wordpress.com