Pacaran itu barang yang tidak bisa dibandingkan denga menikah, jauuuuuh... yah meskipun saya bukan pelaku aktif pacaran saya sudah tahu bagaimana rasanya. Pacaran itu hanya sekedar aktifitas untuk memenuhi keingginan kita untuk dekat dengan orang yang kita simpati terhadapnya. Hanya perasaan itu diungkapkan dan tiba-tiba menjadikan kita seolah-olah berkomiten untuk terus bersama orang yang kita inginkan. Apa jaminannya? tidak ada! ini hanya kegiatan untuk memenuhi hasrat kita yang ingin terus bersama orang yang kita suka. Saat kita berpacaran, yang nampak dari orang  yang terus kita bersamai hanyalah kenampakan baiknya. Teman, apakah kamu pernah berfikir sebenarnya apa yang sedang dilakukaan saat dia tidak sedang bersamamu? Jangan membohongi diri sendiri. Cobalah tengok, sikap apa yang selalu kita pasang saat berhadapan dengan orang yang disebut dengan pacar? dan bandingkan dengan sikapmu sehari-hari kepada kedua orang tua? Apakah sama? Teman.. kita selalu menampakan sisi baik dan sikap kita yang baik saat bertemu dengan orang yang kita sebut pacar. Namun ketika kita marah dengan kedua orang tua, apakah kita mau dilihat sebagai orang yang bersifat seperti itu dihadapan orang yang kau sebut pacar? hah.. ini lah, yang ujung-ujungnya akan membuat hubungn itu berakhir ketika kita sudah saling mengetahui kejelekan masing-masing. Jika sudah tidak tahan, ujung-ujungnya juga putus.. kandas. Kegiatan pacaran bisa saja kamu lakukan dengan sesuka hati bersama orang yang kita suka. Tidak butuh komitmen. Tapi yang namanya pernikahan, butuh komitmen dan tidak bisa disamakan dengan berpacaran. Siapa yang bilang bila pacaran itu latihan berumahtangga? sehingga saat menikah sudah lebih terbiasa dan sudah mengenal satu sama lain? itu hal yang salah! Teman, sebagai anak yang mengamati kehidupan pernikahan kedua orang tua, minimal kita sudah paham mengenai ini. Pernikahan akan menuntutmu menerima setiap kekurangan orang yang akan bersamamu. Ketika terdapat perbedaan dan kejelekan sifat dari orang itu, tidak semena-mena kita bisa mengakhirinya dengan kata 'putus'. Sekarang kamu dihadapkan dengan tanggungjawab kepada orang tuanya, kepada dirinya yang telah kau minta dan kepada Allah.

Oke anggaplah ini sebagai bentuk saya berbagi. Saat saya masih SMP, saya paling hobi menemani teman saya untuk mengejar-ngejar orang yang dia suka. Menemani teman saya bertemu dengan pacarnya yang tempat tinggalnya di dekat kali dan saya ditinggal dipingir kali untuk mereka bercengkrama. Betapa bodohnya saya dulu. Iya saya akui, kegiatan mengejar-ngejar anak laki-laki dan mendengarkan teman saya yang berbahagia karena menyukai laki-laki itu nampak menyenangkan. Iya saat itu masanya transisi dari anak-anak menuju remaja. Perasaannya masih labil dan fikirannya masih sangat cekak. Dulu saya senang-senang saja menuruti permintaan teman saya untuk menemani dia menemui pacar-pacarnya. Namun, setelah saya berkali-kali dia tinggal asik melakukan kegiatan itu, saya terus dicampakan. Dia hanya menemui saya ketika di butuh. Akhirnya saya memutusakan untuk berpisah dengannya dan mencari teman yang lebih baik. Apa dia peduli? Entahlah.. toh dia telah menemukan teman yang lain yang setia menemaninya untuk mengejar-ngrjar laki-laki lainnya. Secara tidak langsung saya sudah mengetahui bagaimana dan apa rasanya melakukan kegiatan tersebut. Tapi seketika itu pula saya menjadi orang yang paham bagaimana imbas dari kegiatan tersebut. Pacaran tidak dibutuhkan komitmen. Kalau sudah nampak jeleknya dan berasa ingin berpisah. Tinggal bilang putus.. cari yang lain, yang lebih baik.

Kakak saya orang yang aktif berpacaran, saya harap suatu saat dia membaca blog ini. Saat kakak saya sedih saat berpisah dengan pacarnya, saya menjadi orang pertama yang mendapatkan efek dari moodnya yang jelek. Saya sudah berkali-kali beritahu dia, yang ada justru kepala saya lebih murah dibandingkan sepatu yang dia lemparkan ke wajah saya. Oke terserah.. saat kamu menangis yang diakrenakan diputuskan pacarmu, urusi sendiri kesedihanmu dan jangan sekali-kali meminta pendapat mengenai bagaimana seharusnya perempuan, aku tidak mau menjawab.

Kini saatnya saya dihadapi kesulitan bersikap sebagai anak yang terus-terusan meihat pertengkaran kedua orang tua. Sudah 23 tahun, ternyata belum dapat mendewasakan usia pernikahan keduanya. Belum cukup untuk memahami satu sama lain, dan terus-terusan yang dipermasalahkan adalah permasalahan yang sama. Tapi mengapa mereka masih bertahan hingga sejauh ini? Pernah saat saya masih kecil, saya secara pribadi meminta kepada kedua orang tua saya agar mereka bercerai. Saya dan kakak saya sudah sepakat untuk berbagi, saya ikut bapak dan kakak saya ikut dengan Ibu. Saat saya mengutarakan hal tersesbut yang ada justru membuat ibu saya sedih, beliau menangis. Saya benar-benar masih lugu saat itu. Hingga akhirnya saya tau apa yang menjadi akar masalah yang dari dulu tidak pernah terselesaikan. Setelah saya cukup besar, baru Bapak bercerita bagaiman akhirnya mereka menikah. Pada intinya, tidak ada alasan kuat, tidak ada komitmen, tidak ada dasar jelas yang melandasi pernikahan kedua orang tua saya. Salah satu dari keduanya (maaf saya tidak bisa becerita banyak) dipaksa untuk menikah oleh salah satu pihak keluarga. Bila pernikahan tersebut tidak dilakukan, akan ada fitnah dan pemutusan hubungan saudara. Beginilah akhirnya.. saya sering melihat pertengkaran kedua orang tua saya dimanapun. Pernikahan butuh komitmen yang kuat, sementara pacaran bisa kamu lakukan sesuka hatimu.

Pacaran bisa kamu lakukan sesukamu kok. Tapi apa kamu tega membagi-bagi hatimu kepada banyak orang? Oke, ada pernyataan yang mengejutkan dari kakak saya yang aktif pacaran. Dia pernah menyampaikan begini, "Eh.. pasti nyakitin bagi seorang laki-laki mendapatkan pernyataan, 'selamat kamu telah mendapatkan bekas (mantanku)' saat dipernikahannya" Ehm.. intinya dari pembicaraan itu, bagaimanapun tidak ada orang yang mau mendapatkan hati yang telah dibagi-bagi ke orang lain. Sekarang bertanyalah pada hatimu, apakah kamu tega memberikan yang tidak utuh kepada orang yang seharusnya berjodoh denganmu?

Satu pesan lagi, ini pelajaran yang bapak berikan kepada saya anak perempuannya. Saat itu Bapak sedang bengah melihat perilaku anak orang yang berpacaran didepan banyak orang juga tanpa malu. saling berpangkuan dan menggeliat-geliat geli. Bapak becerita ketika itu anak laki-laki yang dia lihat kepalanya dipangku dipaha si anak perempuan yang menggunakan celana pendek. Bapak kemudian bilang, "Betapa bodohnya anak perempuan itu, kasihan sekali. Apakah dia tidak berfikir bahwa laki-laki itu juga bisa melakukan hal yang sama terhadap perempuan yang lain?" Pelajaran lagi. Jangan mudah bersimpati terhadap lawan jenis, apakah kamu tidak berfikir bahwa dia juga akan melakukan hal yang sama pada orang lain? Apa lagi menghadapi laki-laki yang genit, hah.. jauh-jauhlah. Jangan-jangan kamu perempuan nomer sekian yang telah dibuai oleh sikap berlebihannya itu.

image source: http://www.layakbaca.com/2012/08/walpaper-dan-gambar-kartun-muslim.html
           
Alhamdulillah.. Akhirnya bisa kumpul bareng juga. Dewi?


Horeeee! Setelah hampir 6 bulan terkukung dikampus akhirnya bisa bertebaran di muka bumi! Oke, hitung-hitung dari kampus Fakultas Biologi ke gedung Rektorat merupakan jarak terjauh yang pernah ditempuh teman-teman PH (pengurus harian) untuk bisa berkumpul dan jalan bersama. Jarang-jarang kami bisa merasakan mendung di luar langit kampus yang penuh dengan jadwal kesibukan yang kami buat sendiri. Ya, hari itu tanggal 22 Juni 2013, jadi hari pertama kami akhirnya rapat diluar kampus! Biasanya kami mencuri-curi waktu ditengah kesibukan kami untuk sekedar rapat membicarakan hal-hal yang sangat mendesak. Dan untuk hari itu, kami dipertemukan dalam keadaan yang lapang dengan limpahan rizki yang berlipat ganda karena bapak Mas’ul kami, Cahyo Adi Wibowo dengan senang hati membelikan anak-anaknya bakso.. Alhamdulillah

Cho.. ini untuk pertama kalinya akhirnya kami dipertemukan dalam keadaan lengkap (hueeew....). Bisanya ada ketimpangan disana-sini yang tidak bisa tertambal tanpa kehadiran teman-teman PH. Yah, saya nyatakan bahwa rayuan gembel semangkuk bakso Pak Ateng ala Cahyo mampu mengumpulkan kami dalam waktu yang sama, untuk  lagi-lagi Syuro’

 Hari itu semuaya hadir, kecuali Dewi tidak ada saat kami semuanya menikmati kuah panas kuliner Pak Ateng. Meika, Annis, Lutfi Dewi, Muslih, Ibnu, Cahyo, Ali, Fajar, Mbak Umi dan Irma (aku juga ada lho!) duduk dikursinya masing-masing untuk menghabiskan makanan yang ada didepan kami. Taukah Choco, hari itu aku hanya pesan mie ayam pangsit dan air putih untuk ngirit kantong. Awalnya aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata ada yang berbaik hati menraktir anak sebanyak ini. Tapi ada yang memilih untuk tidak makan dan juga ada yang tambah setengah porsi (apakah juga dibayar setengah?)
           
Setelah dirasa kenyang, kami pindah menuju tempat untuk rapat. Sholat berjama’ah di rektorat dan dengan lancangnya kami numpang rapat di lantai dua rektorat depan ruang sidang utama*. Dengan polosnya kami duduk rapi dan ketika itu pula ada oknum SKKK yang polos datang dan bertanya, “Ini ada acara apa mas?” dengan polos juga akhirnya Cahyo menjawab “Rapat Pak..”dan akhirnya si bapak SKKK melanjutkan kepiawaiannya “Pindah di bawah aja....” OKE! Sepolos-polosnya kami akhirnya kami pindah juga Cho.. Oh iya, saat kami rapat, Dewi Rakhmawati temanku ini datang Choco. Dia datang menaiki tangga dengan suara hentakan kaki yang luar biasa hingga semua perhatian kami tercuri memperhatikan ke tangga, siapakah gerangan? Oh ternyata Dewi Rakhmawati. Sayang baru sebentar menikmati kebersamaan kami yang mutlak lengkap harus segera diakhiri sementara untuk pindah tempat.

Choco, akhirnya kami pindah tempat di bawah pilar-pilar rektorat sebelah barat, tepatnya di parkiran mobil para pejabat kampus kami melanjutkan rapat. Adaaaaa saja kejadian yang terjadi. Kali ini Muslih kelupaan, es krim susu strawbery yang ia simpan di dalam tas mencair.. dan melumuri semua bagian dalam tasnya menjadi warna ‘PINK!’ Tapi semua teratasi Cho.. Ibnu mampu menghabiskan es ukuran cup jumbo dengan beberapa kali teguk. Untungnya pula, ada kepala Bidang Kemuslimahan yang sangat muslimah sekali menyumbangkan semua tisue untuk membersihkan lumuran es krim, terimaksih Lutfi Dewi..

Kali ini ada pesonil MS yang hadir, beliau (pinjem istilahnya Dewi ah.. pake ‘beliau’) merupakan MS yang paling rajin hadir mendampingi kami saat rapat, mas Ihlas. Datangnya beliau menjadi kelengkapan yang lebih untuk kami. Karena adanya mas Ihlas memberikan kami kesampatan untuk bisa foto keroyokan. Choco, foto-foto kami (pengurus harian di rektorat) sebagian besar adalah hasil jepretan mas Ihlas Choco, syukron...

Choco, maaf foto-foto kami ini sebagian banyak yang alay, InsyaAllah untuk teman-teman yang akhwat (perempuan) masih terjaga kok, enggak macem-macem. Lihat saja gaya duo maut Ibnu-Ali, mantap sekali fotonya. Berbeda dengan Fajar yang sangat berwibawa seperti mentri kabinet yang mau diambil fotonya. Ini cukup untuk kalangan sendiri saja, anak-anak PH. Foto-foto ini cukup menjatuhkan image (Astaghfirullah...) ya tapi itulah kami, cukup untuk kalangan sendiri. Selamat bermemoar teman-teman,” jika tua nanti kita kan hidup masing-masing.. ingatlah hari ini”. Hanya Allah yang bisa memisahkan (kita? hehehe)
                          
                  


 Fotografer handal hari itu, mas Ihlas


" Ada yang mau pesen bakso lagi?"


Obsesi Rektor-Ibnu Sina

foto lengkapnya silakan klik di sini







Hai Choco, hari ini mentalku agak sedikit 'teroncang'. Revisi yang ku kerjakan sungguh-sungguh tidak ada artinya di bawah oret-oretan asisten praktikum. Jelas ini kesalahanku. Revisi tanpa terlebih dahulu bertanya apa maunya si asisten dan bagiamana seharusnya aku merevisi laporan. Bila tanggapannya seperti yang akan kusampikan di bawah ini, aku merasa sedikitpun tidak ada apresiasi atas kerja kami sebagai praktikan..

Sore kemarin setelah kami mencoba berunding dengan asisten mengenai nilai-nilai yang minim yang kami terima, banyak dari kami yang cuma ngelus-ngelus dada untuk mengatakan pada diri "sabar...sabar...". Cho.. kami berusaha agar apa yang selama ini kami usahakan itu tidak berujung dengan keluhan.

Sepulangnya kami berbincang dengan asisten, ada dua temanku yang mengambil hasil koresi ke laboratorium, Amalina dan Sri. Mereka tergopoh-gopoh membawa tumpukan laporan kelompok kami dan tiba-tiba Sri menghampiriku sambil berkata "Tul... laporanmu ngeri banget!" dan taukah Cho.. apa yang dimaksud ngeri oleh temanku?


Revisi laporan yang kuharap mendapatkan nilai yang lebih baik malah berlebel seperti ini;

"Males koreksi nih, revisinya kagak niat... Sudahlah kagak usah revisi klo gini caranya.. Ok? pake nilai yang kemarin aje"

Astaghfirullah.. rombongan teman-teman yang mau pulang pada ngeri benar Cho lihatnya. Teman lain yang bukakn satu kelompok praktikumku juga mendadak naik darah lihat komentar yang seperti itu.

Cho ada banarnya omongan anak teknik. Aku pernah diajari seperti ini Cho, "Kalau ke kampus, hatinya ditinggal di rumah atau di kostan aja, jangan ikut dibawa". Komentar itu membenarkan apa mereka ungkapkan Cho. Dunia kampus itu menuntut kita untuk melakukan segala sesuatunya dengan benar, hati tidak jadi ukuran untuk mencapai apa yang jadi tujuan. Jika menanggapi hal-hal sekcil itu menggunakan hati, dijamin.. lama-kelamaan hati kita justru 'kebas' alias mati rasa. Sangat disarankan sekali untuk meninggalkan hati kamu dan simpan seaman-amannya di rumah atau kostan Cho.. untuk lebih aman lagi, titipkan hati kita cukup ke Allah saja dan minta tolong untuk dijaga dan dilindungi dari kekerasan hati..


Cho.. beginilah ceritanya bila kamu kadi tempatku untuk bercerita. Lega, tapi tidak ada solusi ketika selesai aku menuliskan segala masalahmu padamu, Choco..

Cho, aku ini tak pandai berkawan, punya teman dekatpun pasti aku jauh. mungkin aku menjadi salah satu anak perempuan yang selalu berjalan sendiri di kampus, tak punya teman duduk yang tetap dan tak punya kawan untukku bercertita tentang segalanya. Kau tau kan Cho.. kebanyakan anak perempuan pasti memiliki 'klik' yan akan nampak bersamaan ketika mereka jalan. bermain, belejar hingga melakukan segala aktifitas kampus. Bila kau menemukan A, pasti dia akan bersama B. Aku sudah tak punya Cho.. mungkin harus kusadari aku ini oranh yang soliter, tapi tak mampu selalu berjalan sendiri juga.

Ketika aku sedih atau sakit Cho, siapa orang pertama yang ku kabari? aku belum punya list teman. Ketika temenku sakit, apakah aku menjadi orang pertama yang menjenguk temanku? apakah aku menjadi orang yang pertama mengetahui kabar mreka? Bagaimana bisa aku meminta diperhatikan sementara aku tidak pernah memperhatian oran lain, sudah sunatullah..

Aku hampir lupa Cho, bahwa seseungguhnya ada yang Maha Mendenarkan. Dia yang mendengarkan sedihku meski akau tak berkata. Dia yang mengetahui hendakku meski ku tak bercerita, Dia yang memberikan jalan meskipun aku lupa berdoa. Ialah Allah,.. dan bagaimanapun tetap harus memperbaiki hubungan antar manusia juga. Itu yang masih belum bisa ku perbuat.

Sekarang hatiku sedang di bolak-balikan Choco. Maka sudah berhari-hari aku berdoa untuk ditetapkan hatinya.. sedang butuh dikuatkan. Aku ini orang yang berhati lemah..

Biar template warnanya hitam, kuning dan putih.. saya mohon dengan sangaaaaaaaaaaaaat, jangan kaitkan warna tersebut dengan salah satu parpol yang saya sebutkan di judul. Memang kebetulan tamplate yang saya gunakan ini temanya "Lime" jadi wajar kalo ada kuning-kuningnya :p
Ini salah satu bentuk konfirmasi, maaf agak gak penting tapi harus tau! saya bukan anggota maupun penggalak parpol tsb. Terimakasih

Image source: http://www.newgrosir.com


Chocoooo!
lama tak bersua, aku mau menhidupkan kembali blog kita. Cho, kali ini aku mau menceritakan kepadamu soal 'kesetengahan' hati yang akhirnya mengantarkan ku pada suatu kebingungan. Kuliah, organisasi yang sekarang ku pertanyakan kembali. apa tujuanku kesana? kenapa sekarang muncul fikiran untuk mundur? DISORIENTASI!

Oke, kuterangkan kepadamu dulu. sekarang aku sudah duduk sebagai mahasiswa semester 4 di Fakultas Biologi UGM. Di kampus aku mengikuti beberapa organisasi, antara lain Jamaah Mahasiswa Biologi, Jamaah Shalahuddin dan Kelompok Studi Entomologi. Ketiga organisasi yang ku ikuti merupakan organisasi yang tak pernah kurencanakan. Bahkan niat untuk masuk sebelumnya belum ada. Karena ikut terkena arus, akhirnya mengalir juga dan timbul pertanyaan. Apa tujuanku ikut-ikut organisasi itu?! pertanyaan itu muncul ketika telah jauh Cho... dan rasa goyah itu makin kuat ketika orang tua berkata,"Enggak perlu ikut-ikutan organisasi. kamu udah belok dari jalan yang kamu tuju di awal! " Cho.. tentu apa ang dikatakan Bapak menjadi dua bagian pisau. Begitu menguatkan ku untuk semakin ingin keluar dari organisasi, tapi di sisi lain perkataan Bapak juga begitu menyakitkan karena... aku sudah mulai menyukai jalan ini.

Cho.. memang dasarnya bukan pribadiku yang terlatih dengan alur organisasi. Sejak SMP, aku secara terang-terangan menentang ikut organisasi. Yang kulakukan hanya belajar, keluyuran main dan ngaji jika sedang insaf. SMA aku sudah mulai mengenal Rohis. Ya, aku tertarik bergabung dengan organisasi keislaman tersebut karena memang mulai tertarik dengan Islam. Tapi lama-lama, aku justru terlibat jauh di dalamnya. Jadi Pengurus harian selama dua periode. Dari track record Rohis itu juga yang membwaku jauh ke JMMB, juga JS. Sekrang aku menemani teman-teman di Bidang Media Opini JMMB, juga menjadi staff redaksi di Media Centre JS. Satu kelemahan yang masih terbawa Choco, aku paling tidak bisa jika harus menggunakan akhir pekan pergi ke kampus dan bermusyawarah ataupun mengikuti kegiatan-kegiatan yang menghabiskan waktu di ruangan! sehingga tidak ada waktuku untuk bapak-ibu dirumah. tidak ada waktu untukku mengunjungi teman-teman lama.

Sejak mengikuti organisasi di sekolah, aku mulai mengurangi jatah latihan taekwondo saat itu, bahkan sekarang aku sudah berhenti. Jadwal membantu bapak-ibu mulai berkurang karena selalu pulang ke rumah dalam keadaan lelah.. dan mulai autis kembali dengan tumpukan laporan. Kembali, aku menjadi pribadi yang pulang kerumah tanpa jiwa. sejak mulaii itulah, di semester tiga aku mulai sakit-sakitan. Bila terlalu lelah, aku akan mengalami istihadah parah dan migrant akibat begadang. Wajar jika bapak-ibu mulai khawatir dengan keadaanku Cho.. mereka merasa kehilangan anaknya. Pulang hanya untuk makan, tidur, mengerjakan laporan dan berangkat kuliah lagi..

Cho.. nampaknya terlalu naif untuk ku bilang bahwa aku akan baik-baik saja jika kuliah sambil berorganisasi. Pahit memang, aku tidak bisa membuktikan kepada Bapak bahwa aku akan baik-baik saja. ketika ditanya nilai, aku tidak bisa menunjukan nilai kuliah yang gemerlang. Ketika ditanya, apakah aku menikmati semua yang kujalani di organisasi. Ku bilang, '"Tidak juga, karena aku tidak suka menghabiskan banyak waktu di ruangan dan selalu terikat dengan sistem yang ada"
setenga hati Cho aku menjalaninya... aku belum mencapai ikhlas.

kalau memang ternyata bukan kapasitasku terus bertahan dalam struktur organisasi, seharusknya aku sudah keluar dari dulu. Ataukah sekarang kuputuskan untuk berhenti?
Aku ini bukan tipe orang yang suka teikat, aku harus mengakui itu Cho.. aku tidak mau berlama-lama menjalani hal ini dengan setengah hati.

Cho.. aku sudah mulai menyukai jalan ini. Dekat dengan orang-orang sholeh dan shalihah, orang-orang yang rajin dan semangat dan mulai menyumbang kemampuan yang pas-pasan untuk berbagi kebaikan, tapi satu yang tidak kubisa. Bertahan di suatu sistem organisasi yang selalu menuntut untuk di prioritaskan. Aku bukan tipe orang yang nyaman diikat Cho.. Astaghfirullah

Image source: http://www.123rf.com




UGM, Yogyakarta-UGM kembali menghadirkan mentri BUMN, Dahlan Iskan pada tanggal 28 Desember 2012 kemarin. Kali ini, Direktorat Kemahasisawaan UGM mengundang mentri Badan Usaha Milik Negara tersebut untuk mengisi kuliah umum.

Bertempat di ruang senat dua rektorat, Dahlan Iskan hadir bersama Rektor UGM hampir dua jam lewat dari waktu yang dijadwalkan. Acara yang sempat mundur, diisi materi pengembngan diri oleh pak Senawi.
Saat Dahlan Iskan datang, tanpa sempat duduk di kursi yang disediakan beliau langsung bercerita mengenai keterlambatannya. Kuliah umum yang molor dikarenakan rapat yang harus dijalani bersama jajaran dosen ahli di UGM.

Rapat yang dilaksanakan sebelum kuliah tersebut membahas mengenai penelitian-penelitian yang akan direalisasikan oleh BUMN menjadi sebuah produk. Dahlan Iskan mengungkapkan, setidaknya terdapat sembilan penelitian dosen ahli yang akan direalisasikan menjadi produk nasional. BUMN akan mengusahakan untuk memproduksi, memasarkan dan memasyarakatkan produk penelitian tersebut pada bulan juli 2013.

Beliau mengungkapkan bahwa birokrasi yang lambat dapat mengakibatkan waktu pelaksanaan realisasi produk terhambat. Sehingga beliau mengungkapkan, bahwasanya bila penggunaan APBN yang prosesnya lama dapat dibantu oleh BUMN. BUMN memiliki kemampuan seperti APBN, bila APBN tidak mampu dalam artian memiliki proses yang lama, fungsi APBN dapat diatasi oleh BUMN.

Dalam kuliahnya pak Dahlan Iskan juga sedikit menyinggung kejelekan-kejelekan orang yang berpenghasilan menengah atas (beliau menyebutnya dengan orang yang sudah tidak memikirkan besok pagi makan atau tidak). Bahawasanya orang-orang tersebut memiliki kejelekan diantaranya sudah tidak mau lagi diajak menderita, kemudian bila bicara keras entah pendapatnya benar atau salah dan terakhir memiliki keinginan yang serba cepat yang inginnya menyelesaikan sesuatu serba cepat. Kemunkinan, pernyataan terakhir mengenai kelemhan-kelemahan tersebut pak Dahlan sedikit menyinggung orang-orang yang menginginkan proses yang cepat di instansi tertentu.

Pada akhir pembahasannya pak Dahlan hanya memberikan dua solusi. Bila menginginkan penyelesaian yang cepat maka harus ada yang diubah. Merubah birokrasi atau masyarakatnya yang juga harus ikut-ikutan lamban, ujarnya.[AI]