Oh ya
Choco.. pagi ini aku kedapatan Mas Luthfi Hamzah mengisi suatu forum yang aku
hadiri. Bawaannya santai, menggunakan jaket putih dengan kaos berwarna biru
muda Mas Luthfi datang lebih awal. Beliau
ini merupakan mantan presiden BEM-KM UGM periode 2011. Saat mengisi di
forum, beeeh.... logat Betawinya keluar kemana-mana. Wajar kalau aku akhirnya
lebih suka menyebut beliau sebagai Engkong. Si Engkong ini biar dikata mantan presiden BEM-KM, perangai beliau ini tidak terwarnai habis dengan dengan
lingkungan yang heterogen. Si Engkong ini punya pribadi yang kuat dan khas
menunjukan bahwa dirinya adalah seorang muslim yang memang pantas memimpin.
Gambaran saja Choco, selama forum ditanyai pertanyaan dari Engkong, kebanyakan
dari kami cuma melongo. Banyak bembicaraan beliau yang kami tidak tau. Apa yang
dia tau kami tidak paham. Malau rasanya, padahal Engkong pembawaan selama
menyampaikan sharing sangat santai.
Bisa kubilang juga agak sedikit tengil. Beda dengan pembawaan mas-mas yang
berlatar tarbiyah pada umumnya. Aku benar-benar dapat senggolan yang cukup
keras untuk mengambil pelajaran dari pertemuan hari ini.
Ada dua pelajaran besar yang ku
ambil dari Engkong. Pertama, seorang muslim itu harus berwawasan luas. Iya..
malu Choco. Ketika ditanya, “Apa saja delapan peradaban besar yang ada?”
simpel, tapi kami hanya saling memandang dan terdiam (eh.. kayak lirik lagu?).
kami tidak tahu. Ketika ditanyai
mengenai Sirah pasca kepemimpinan nabi Muhammad, kami juga hanya terdiam. Dan
Engkong hanya sedikit mengayun badannya sambil menepuk paha dengan tangannya,
“Ya Salam!!!... ini anak Biologi kashian amat!”. Engong akhirnya angkat bicara,
perihain beliau atas keadaan kami. “Kalian itu jangan mengkotak-kotakan ilmu,
kalian tahu bahwa salah satu kepribadian muslim adalah berwawasan luas. Kalau
kalian keadaannya seperti ini bagai mana kalian bisa memimpin?”. Yah kami juga
prihatin atas diri kami sediri. “Peradaban itu ya kita, manusia. bukan
peradaban jangkrik atau cacing. Ente manusia bukan? Biar anak biologi jangan
Cuma tau ordony apa, genusnya apa” luar biasa banget si engkong!
Yang kedua, dalam berinteraksi
jangan lah kita sebagai muslim bengeksklusifkan diri. Pemimpin yang baik adalah
ketika kamu sebagai seorang muslim mampu memimpin orang-orang yang memiliki
perbedaan latar belakang denganmu, dan mereka nyaman ketika kamu pimpin. Engkong
menjelaskan, bahwa peradaban yang bermacam-macam diluar sana juga sedang
berkonsolidasi. Maka amat bahaya jika seorang muslim hanya bisa berbaur dengan
sesamanya saja dengan mengatakan ,
“Ah.. saya suda merasa terjaga bila dekat dengan ukhti... atau saya sudah
nyaman dengan akhi...”
Juga
ada pernyataan dari Engkong yang mngkin agak menyinggung mbak-mbak yang ada di
sebelah dan belakang ku. Engkong bilang seperti ini, “Kalau temen-temen Ikhwan
mungkin sudah siap hati menyikapi akhwat. Jika memberikan roti misalnya,
pandangannya udah tertunduk dan makannya di lempar (sambil memeragakan), coba
kalau itu orang yang ga paham. Ini bro!!! (sambil memeragakan pelemparan roti
via lantai), mungkin aja ada orang yang siap hati. Apalagi akhwat-akhwat itu
jilbabnyaya setaplak (sambil memeragakan, menunjukan batas jilbab di tangnnya),
udah itu brosnya di sana, di sisni. Penitinya di sana, di sini (sambil
memeragakan) udah itu jilbabnya di selampirin lagi (diperagakan lagi). Pake rok
lebar, pake baju lebar habis itu masih pake jaket.....” wah! Heboh kami dalam forum.
Yang mas-mas cengar-cengir sembari tertawa keras. Sementara mbak-mbak di
sampingku hanya tersenyum kecut menahan amarah.
Hingga pada akhir sesi, dibuka sesi
diskusi oleh moderator. Moderator memberikan kesempatan untuk para paserta,
mas-mas dan mbak-mbak. Saat putra telah selesai bertanya, giliran yang putri.
Moderator telah mempersilakan, namum teman-teman putri hanya saling tertunduk. Engkong ambil suara lagi, “Yaellah..
susah bener ya kalau internal (anak-anak SKI), emang kulturnya gini ya? Kalian itu sebagai akhwat harus kritis.
Tuh liat aja Irshad Manji, Lady Gaga tuh pada berani. Masa kalian cuma pada
nunduk buat cari aman?”
Lugas memang si Engkong. Banyak
pelajaran yang bisa diambil hari ini. Akhirnya Engkong pamit pergi, mau
ada perlu ‘nyanmor’ bareng temen-temen. Semua dapat salam dari engkong, tak
terkecuali menyalami shaf purti (salam berupa Wassalamu’alaikum lho..).
Pesan dari Engkong, “Ali-Imron 110, kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan
untuk manusia. Jadi kalian itu hidup bukan hanya sekedar bernyawa, tapi
dapat membawa manfaat bagi yang lainnya. Bukan hannya terbatas untuk muslim
lainnya, tapi buatlah perubahan untuk Indonesia”. Nah yang terakhir itu
omongannya anak BEM banget!
NB: semua kalimat langsung tulisan ini adalah penyesuaian berdasarkan ingatan penulis, Choco...
sumber ganbar:
http://ugeem.com


0 komentar:
Posting Komentar