Alasanku Tidak Memenggilmu 'Pak'

by 00.18 0 komentar

Taukah Choco? Bila hingga saat ini aku masih belum terbiasa dengan berbagai kultur yang ada di kalangan aktifis dakwah kampus. Bahwasanya aku masih sangat lugu mengenai istilah-istilah yang beredar di lingkungan mereka. Ikhwan, akhwat, tabayun, munashoroh dan mengganti kata sapaan ‘Mas’ dengan ‘Pak’. Untuk istilah yang terakhir aku benar-benar geli. Merasa aneh jika terbiasa memanggil ‘Mas’ harus diubah ‘Pak’. Karena ada suatu kesan tersendiri yang menurutku begitu eksklusif. Apkah para teman-teman juga akan melakukan hal yang sama di lingkungan yang berbeda? Aku mendapat penjelasan dari kakak senior, bahwasanya memanggil menggunakan sapaan ‘Mas’ terkesan ‘Mesra’. Oh ya?! Astaghfirullah!  Betapa menjaganya mereka akan hal-hal yang kecil sperti itu. Yah.. pada akhirnya aku tetap saja enggan memanggil degan sapaan ‘Pak’ tapi aku jadi terbiasa mengganti dengan sapaan ‘Pakdhe’. Hehehe...
            Choco.. aku punya pengalaman jelek perkara masalah sapa-menyapa antar lawan jenis. Ini terjadi saat aku masih SMP, masih inocent, ingusan, pendek sekaruannya.  Aku dan teman-teman kampung ikut Dauroh Jasadiya khusus putri dari FSRMY. Mungkin sekitar tahun 2006. Acara ini menemukanku kepada orang-orang yang luar biasa. Meraka yang kutemukan rata-rata telah duduk di bangku SMA sampai kuliah. Hahaha.. tengil sekali aku mengingat masa itu. Dengan celana training dan jilbab ala kadarnya aku dipertemuakan dengan mereka, para muslimah lemah lembut dan perkasa. Jilbab mereka lebar, sesuai syariat. Rata-rata telah konsisten menggunakan rok, deker, kaus kaki dan baju yang lebar. Nah.. permasalahanku mulai dari sini...
            Saat ditempat Dauroh, bukan sekedar teman-teman putri saja yang datang. Teman-teman putra juga datang untuk mengwasi jalnnya acara berlangsung. Meskipun acara ini khusus akhwat, mas-mas ikhwan juga datang dan berkeliaran di lingungan kami Dauroh. Diantara teman-teman putri, meraka saliang menyapa menggunakan awalan ‘sahabat’. Aku jadi berasa sedang ada di suatu radio apaaaaaaaaa itu. Selain itu, para muslimah, kawan se-dauroh jika menyebutan kata ‘laki-laki’ diganti dengan ‘ikhwan’. Sehingga aku sering mendengar , “Eh.. yang ikhwan udah dapat jatah makan belum?” atau kalau di tempat wudlu sering terdengar seperti ini jika ada mas-mas lewat, “Awas!! Ada ikhwan”. Sehingga saat itu juga, aku menafsirkan bahwasanaya preposisi ikhwan itu merupakan generalisasi untuk mengganti kata laki-laki.
            Oke.. saat itu saya mendapatkan kosakata baru, ikhwan dan akhwat. Ukhti dan akhi.  Pada saaat di lokasi outbond di Kali Kuning seingatku, ada segerombolan ikhwan  turun dari atas lembah menuju hilir. Padahal aku dan teman-teman saat itu sedang berbaju basah kuyup dan belepotan tanah sekujur tubuh. Gerombolan itu datang dari arah berlawanan rombongan kami. Setahuku saat itu, para teman-teman muslimah sangat menjaga sekali. Spontan aku memberi peringatan ke taman-teman, “Mbak! Ada ikhwan....!” tapi peringatanku dibalas dengan mimik heran. Teman-teman dan mbak-mbak akhwat saling memandang. Mereka terdiam.... akhirnya salah satu dari mereka berkata, “Oh.. cowok..” Hah?! Apa ada yang salah dengan perkataan saya?
            Yah.. akhirnya para gerombolan ikhwan  tadi lewat. Kami saling berhimpitan dan dan menyingkir ke tembok jurang. Taukah Choco? Ikhwan yang ku maksud adalah mereka para anak laki-laki berkaos hitam dan berkemeja. Mereka menggunakan celana jeans yang dikenakan di bawah pinggul. Celana mereka diikat dengan ikat pinggang ekstra lebar. Rata-rata sepatu yang mereka gunakan adalah sepatu cat ala anak-anak sakater. Saat itu gaya rambut yang paling terkini adalah model polem (poni lempar). Dan mereka juga rata-rata seperti itu.  Mereka yang ku maksud ikhwan bukanlah ikhwan dimata teman-temanku yang lain! Ya Allah.. ternyata aku salah tafsir Choco..
            Semenjak itu, kosakata yang baru ku kenal spontan hilang dari kolom kamus bahasa harianku. Meski aku saat SMA berkecimpung di perhelatan kerohisan aku jarang, atau sama sekali tidak pernah menggunakan kata-kata itu. Hingga saat ini pun aku tidak pernah menampakan perkataan itu. 

sumber gambar:
http://www.stitchedupderbystickers.com

gudang kata choco renji

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar