Taukah Choco? Bila hingga saat ini aku masih belum terbiasa dengan berbagai kultur
yang ada di kalangan aktifis dakwah kampus. Bahwasanya aku masih sangat lugu
mengenai istilah-istilah yang beredar di lingkungan mereka. Ikhwan, akhwat, tabayun, munashoroh dan mengganti kata sapaan ‘Mas’ dengan ‘Pak’. Untuk istilah yang terakhir aku
benar-benar geli. Merasa aneh jika terbiasa memanggil ‘Mas’ harus diubah ‘Pak’.
Karena ada suatu kesan tersendiri yang menurutku begitu eksklusif. Apkah para
teman-teman juga akan melakukan hal yang sama di lingkungan yang berbeda? Aku
mendapat penjelasan dari kakak senior, bahwasanya memanggil menggunakan sapaan
‘Mas’ terkesan ‘Mesra’. Oh ya?! Astaghfirullah!
Betapa menjaganya mereka akan hal-hal yang kecil sperti itu. Yah.. pada
akhirnya aku tetap saja enggan memanggil degan sapaan ‘Pak’ tapi aku jadi
terbiasa mengganti dengan sapaan ‘Pakdhe’. Hehehe...
Choco.. aku punya pengalaman jelek
perkara masalah sapa-menyapa antar lawan jenis. Ini terjadi saat aku masih SMP,
masih inocent, ingusan, pendek sekaruannya.
Aku dan teman-teman kampung ikut Dauroh Jasadiya khusus putri dari
FSRMY. Mungkin sekitar tahun 2006. Acara ini menemukanku kepada orang-orang
yang luar biasa. Meraka yang kutemukan rata-rata telah duduk di bangku SMA sampai
kuliah. Hahaha.. tengil sekali aku mengingat masa itu. Dengan celana training
dan jilbab ala kadarnya aku dipertemuakan dengan mereka, para muslimah lemah
lembut dan perkasa. Jilbab mereka lebar, sesuai syariat. Rata-rata telah
konsisten menggunakan rok, deker, kaus kaki dan baju yang lebar. Nah..
permasalahanku mulai dari sini...
Saat ditempat Dauroh, bukan sekedar
teman-teman putri saja yang datang. Teman-teman putra juga datang untuk
mengwasi jalnnya acara berlangsung. Meskipun acara ini khusus akhwat, mas-mas ikhwan juga datang dan berkeliaran di lingungan kami Dauroh. Diantara
teman-teman putri, meraka saliang menyapa menggunakan awalan ‘sahabat’. Aku
jadi berasa sedang ada di suatu radio apaaaaaaaaa itu. Selain itu, para
muslimah, kawan se-dauroh jika menyebutan kata ‘laki-laki’ diganti dengan ‘ikhwan’. Sehingga aku sering mendengar ,
“Eh.. yang ikhwan udah dapat jatah makan belum?” atau kalau di tempat wudlu
sering terdengar seperti ini jika ada mas-mas lewat, “Awas!! Ada ikhwan”. Sehingga saat itu juga, aku
menafsirkan bahwasanaya preposisi ikhwan
itu merupakan generalisasi untuk mengganti kata laki-laki.
Oke.. saat itu saya mendapatkan
kosakata baru, ikhwan dan akhwat. Ukhti
dan akhi. Pada saaat di lokasi
outbond di Kali Kuning seingatku, ada segerombolan ikhwan turun dari atas
lembah menuju hilir. Padahal aku dan teman-teman saat itu sedang berbaju basah
kuyup dan belepotan tanah sekujur tubuh. Gerombolan itu datang dari arah
berlawanan rombongan kami. Setahuku saat itu, para teman-teman muslimah sangat
menjaga sekali. Spontan aku memberi peringatan ke taman-teman, “Mbak! Ada ikhwan....!” tapi peringatanku dibalas
dengan mimik heran. Teman-teman dan mbak-mbak akhwat saling memandang. Mereka terdiam.... akhirnya salah satu
dari mereka berkata, “Oh.. cowok..” Hah?! Apa ada yang salah dengan perkataan
saya?
Yah.. akhirnya para gerombolan ikhwan tadi lewat. Kami saling berhimpitan dan dan
menyingkir ke tembok jurang. Taukah Choco? Ikhwan
yang ku maksud adalah mereka para anak laki-laki berkaos hitam dan
berkemeja. Mereka menggunakan celana jeans yang dikenakan di bawah pinggul. Celana
mereka diikat dengan ikat pinggang ekstra lebar. Rata-rata sepatu yang mereka
gunakan adalah sepatu cat ala anak-anak sakater. Saat itu gaya rambut yang
paling terkini adalah model polem (poni lempar). Dan mereka juga rata-rata
seperti itu. Mereka yang ku maksud ikhwan bukanlah ikhwan dimata teman-temanku yang lain! Ya Allah.. ternyata aku
salah tafsir Choco..
Semenjak itu, kosakata yang baru ku
kenal spontan hilang dari kolom kamus bahasa harianku. Meski aku saat SMA
berkecimpung di perhelatan kerohisan aku jarang, atau sama sekali tidak pernah menggunakan kata-kata itu. Hingga
saat ini pun aku tidak pernah menampakan perkataan itu.
sumber gambar:
http://www.stitchedupderbystickers.com


0 komentar:
Posting Komentar